Postingan

Bumi Berlian

Part 2 – Suara yang Tersimpan Hari ini aku menemukan buku catatan Elin di tas lama ku. Aku ingat pernah meminjamnya. Buku kecil berwarna biru muda, tepi halamannya sudah kusam. Di halaman terakhir, ada tulisan yang membuat jantungku berhenti sesaat. Aku takut. Aku tidak pernah tidur nyenyak semenjak itu. Aku benci tubuhku sendiri. Aku merasa kotor. Aku ingin menghilang, karena dunia tidak akan mencariku kalau tahu aku sudah rusak. Aku membaca kalimat itu berulang-ulang. Tidak ada nama, tidak ada detail, tapi aku tahu. Seseorang telah menyakitinya. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga jiwa dan hatinya. Berlian. Ia memikul luka itu sendirian. Aku tidak tahu bahwa ia serapuh itu. Berlian... maaf. Aku memutuskan menulis surat untuknya. Meskipun tidak akan pernah ia baca. Elin, Aku tidak tahu harus marah pada siapa. Dunia memang luas, tapi terasa sempit bagiku hingga aku tidak bisa bernapas. Aku ingin menemuimu, tapi aku takut akan menjadi orang yang menambah sakitmu. Jadi ku tulis surat i...

Bumi Berlian

  Part 1 - Tawa yang Padam Malam ini hujan turun. Saat hujan, biasanya Elin akan menasihatiku dengan kalimat, "Bumi, hujan itu berkah dari Tuhan. Gak boleh benci sama sesuatu yang dikasih oleh Tuhan." Dia juga pernah bilang, "Aku suka kalau hujan turun. Apalagi waktu malam. Aku bisa tidur nyenyak." Berlian. Apa malam ini kamu tidur nyenyak? Aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Elin di hidupku. Pada notifikasi yang tak pernah muncul, pada nama "Berlian" yang tersimpan di ponselku. Meski begitu, aku tetap sering mengiriminya pesan. "Elin, kamu baik-baik saja, kan?" "Kalau Elin butuh teman, aku di sini." "El, es krim strawberry yang sering kita beli itu ada topping baru, lho." Tak ada satu pun yang dibaca. Aku menatap huruf-huruf itu, lalu membiarkannya tenggelam oleh pesan-pesan baru yang terus kukirim. Sama seperti Elin yang menghilang dariku, lalu membiarkanku mulai terbiasa tanpanya.  Aku rindu pada gadis itu. Gadis beram...

Bumi Berlian

Prolog  "El" "Kamu di mana?" "Aku minta maaf." Pesanku tidak pernah dibaca lagi oleh Berlian sejak aku menyatakan perasaanku padanya. Aku pikir dia marah karena hal itu bisa merusak pertemanan kami yang sudah terjalin sejak masa orientasi kampus 2 tahun yang lalu. Saat itu aku kehilangan kartu peserta-ku. Dan ternyata dia yang menemukannya. Tapi sudah hampir 2 minggu ini Elin menghilang tanpa kabar. Ya, namanya Berlian. Tapi lebih akrab disapa Elin. Katanya Berlian terlalu mencolok. Aku sudah mencoba menelusuri jejak yang tersisa. Mungkin saja itu bisa membawaku untuk mengetahui di mana Elin berada. Tapi nihil. Elin benar-benar menghilang tanpa kabar. Nomor handphone nya tidak aktif. Bahkan teman-teman dekatnya yang lain tidak tau kemana ia pergi.  Ingatanku mulai terbawa kembali ke masa di mana Elin adalah gadis ceria yang tidak pernah bosan menebarkan senyuman. Bahkan tawanya, yang bagiku kadang terlalu keras untuk tubuh sekecil itu. Ia sangat suka straw...

Tsabira & Dhuha Nya

  Chapter 12: Déjà vu . Kemarin adalah hari pelaksanaan wisuda Tahfidz  angkatan 23 Madeena Islamic School . Sebelumnya, Dania berjanji jika ia lulus Munaqosah  ia akan membagikan kukis yang katanya best seller  di bakery  dekat rumah kepada teman-temannya. Dan hari ini gadis itu akan menepati janjinya. Ia membawa beberapa kotak kecil berisi kukis yang dimasukkan ke dalam tote bag  ke sekolah. “Yeey! Makasih, Dania.” Ucap Nara girang mendapat sekotak cemilan favoritnya. “Sama-sama.” Dania kemudian menatap sendu sekotak kukis yang berada di genggamannya. Aisha yang mulai mengunyah kukis miliknya seakan menyadari apa yang terjadi dengan Dania. “Buat Dhuha, ya?” Dania hanya tersenyum menaggapi pertanyaan Aisha. “Kasih aja, Dan. Dia pasti terima kok. Kemarin aja gak nolak kan diajak foto bareng?” Aisha mencoba memberikan saran terbaiknya pada Dania. “Iya, ya?” tanya Dania sedikit tidak yakin. “Mau gue panggilin?” tawar Nara. “Eh! Jangan deh. Nanti aja kalau dia...

Tsabira & Dhuha Nya

  Chapter 11: Past and Present “Woi Tahu Bacem, minggir aku mau lewat!” Dania yang sedang berjalan terkejut mendengar teriakan seorang anak laki-laki dengan sepeda hitam yang sebaya dengannya dari arah belakang. “Apaan sih?? Emang ini jalan nenek kamu!?” balas Dania kesal. Gadis itu kembali   berjalan sedangkan anak laki-laki yang berada di belakangnya mendecak kesal. “Cepetan dong jalannya!” “Berisik! Dasar tukang batagor jelek!” Anak laki-laki itu mulai jengah melihat langkah Dania yang sangat lambat menurutnya. “Udah naik sini. Aku antarin aja. Jalan aja lama banget!” “Gak!” “Naik gak?! Aku tabrak nih.” Ancam anak laki-laki itu. “Apaan sih ngancam-ngancam begitu?” balas Dania jengkel. “Makanya naik buruan!” Dengan terpaksa Dania menuruti perkataan anak laki-laki itu. Gadis itu berdiri menginjak besi di bagian belakang sepeda dengan tangan memegang bahu anak laki-laki itu, dan… Wuusshh… Anak laki-laki itu mengayuh sepedanya dengan sangat cepat. “Rafaaaa…! Gak usah ngebut-nge...

Tsabira & Dhuha Nya

  Chapter 10:   Kasihan Hari ini MIS  mulai melaksanakan sesi pembuatan buku tahunan sekolah atau BTS  yang dimulai dengan foto organisasi. Dania dan teman-teman dari organisasi seni lainnya juga sudah siap dengan baju organisasi mereka yang didominasi warna carmine   red . “Ciee.. yang hari ini foto pakai baju couple  sama crush  nya.” Ujar Nara menggoda Dania. “Apaan sih? Tiap hari juga couple  kok, sama lo juga. Pakai baju sekolah.” Balas Dania dengan kekehannya. “Ya beda lah, Daniatun . Meskipun  baju lo samaan terus sama dia tapi gak pernah foto bareng kan?” “Ya gak usah diperjelas juga gak pernah foto barengnya.” Dania menjawab dengan manyun. “Ya udah sihh.. yang penting hari ini bisa se- frame  bareng.” Ujar Nara mencoba menyemangati Dania dengan menaik-turunkan alisnya. . Di Lapangan , Sesi foto mereka akan dimulai sebentar lagi. Tapi sedari tadi Dania masih saja celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang malas dia lihat ket...

Tsabira & Dhuha Nya

Chapter 9: This Boy Again?! Hari-hari Dania di kelas 12 berjalan lancar dengan dibumbui persoalan tugas yang datang tiada henti, ulangan harian yang hampir setiap minggu tidak pernah kosong seperti siswa SMA pada umumnya. Belum lagi di semester genap ini, di sekolahnya setiap tahun selalu diadakan sendratasik  yang diselenggarakan untuk pengambilan nilai praktek ujian seni budaya kelas 12. Setiap kelas bahkan sudah mempersiapkan acara ini dari semester ganjil. Dan hari ini baru diumumkan bahwa bulan depan akan diadakan Munaqosah Tahfidz Quran  bagi siswa yang ingin diujikan hafalannya selama menempuh pendidikan di MIS terkhusus kelas 12 yang sebentar lagi akan lulus. . Dania berjalan gontai menuju kantin sendirian karena kedua temannya, Nara dan Aisha sedang sibuk dengan urusan masing-masing saat ini. Aisha yang sibuk belajar untuk ulangan harian ekonomi setelah jam istirahat, dan Nara yang sedang UH lisan susulan mata pelajaran fiqih di ruang guru. Sesampainya di kantin, Dani...