Bumi Berlian

Prolog


 "El"

"Kamu di mana?"

"Aku minta maaf."


Pesanku tidak pernah dibaca lagi oleh Berlian sejak aku menyatakan perasaanku padanya. Aku pikir dia marah karena hal itu bisa merusak pertemanan kami yang sudah terjalin sejak masa orientasi kampus 2 tahun yang lalu. Saat itu aku kehilangan kartu peserta-ku. Dan ternyata dia yang menemukannya.

Tapi sudah hampir 2 minggu ini Elin menghilang tanpa kabar. Ya, namanya Berlian. Tapi lebih akrab disapa Elin. Katanya Berlian terlalu mencolok.

Aku sudah mencoba menelusuri jejak yang tersisa. Mungkin saja itu bisa membawaku untuk mengetahui di mana Elin berada. Tapi nihil. Elin benar-benar menghilang tanpa kabar. Nomor handphone nya tidak aktif. Bahkan teman-teman dekatnya yang lain tidak tau kemana ia pergi. 

Ingatanku mulai terbawa kembali ke masa di mana Elin adalah gadis ceria yang tidak pernah bosan menebarkan senyuman. Bahkan tawanya, yang bagiku kadang terlalu keras untuk tubuh sekecil itu. Ia sangat suka strawberry dan sesuatu yang berhubungan dengan buah itu. Ia pernah bilang padaku, "Strawberry tuh lucu tau." Aku tidak tau apa yang membuatnya berpikir begitu. Asal Elin suka, ya sudah, biarkan saja.

Tapi di saat-saat terakhir aku bertemu dengannya, tawa ceria itu mulai hilang. Yang aku lihat hanya senyuman kecut yang terlihat dipaksakan hanya untuk menghargai lawan bicaranya. Ia mudah gelisah, bahkan pada sesuatu yang tidak nampak wujudnya. Saat itu aku tidak mengerti. Ku kira ia hanya lelah dengan semua tugas-tugas perkuliahan yang memang sedang menghantam kami pada waktu itu. Ku kira ia hanya butuh ruang. Tapi aku salah. Ruang itu yang justru menelan jiwanya perlahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tsabira & Dhuha Nya

Bumi Berlian