Tsabira & Dhuha Nya

 Chapter 12: Déjà vu

.

Kemarin adalah hari pelaksanaan wisuda Tahfidz angkatan 23 Madeena Islamic School. Sebelumnya, Dania berjanji jika ia lulus Munaqosah ia akan membagikan kukis yang katanya best seller di bakery dekat rumah kepada teman-temannya. Dan hari ini gadis itu akan menepati janjinya. Ia membawa beberapa kotak kecil berisi kukis yang dimasukkan ke dalam tote bag ke sekolah.

“Yeey! Makasih, Dania.” Ucap Nara girang mendapat sekotak cemilan favoritnya.

“Sama-sama.”

Dania kemudian menatap sendu sekotak kukis yang berada di genggamannya.

Aisha yang mulai mengunyah kukis miliknya seakan menyadari apa yang terjadi dengan Dania.

“Buat Dhuha, ya?”

Dania hanya tersenyum menaggapi pertanyaan Aisha.

“Kasih aja, Dan. Dia pasti terima kok. Kemarin aja gak nolak kan diajak foto bareng?”

Aisha mencoba memberikan saran terbaiknya pada Dania.

“Iya, ya?” tanya Dania sedikit tidak yakin.

“Mau gue panggilin?” tawar Nara.

“Eh! Jangan deh. Nanti aja kalau dia lewat. Lagian banyak orang di kelasnya.” Dania menolak tawaran Nara karena masih agak trauma dengan kelakuan Nara yang memanggil Dhuha secara tiba-tiba kemarin.

“Oke.”

.

Karena minggu depan ujian sekolah akan dilaksanakan. Dania ingin mulai menyicil belajar dari sekarang. Saat ini gadis itu sedang menuju perpustakaan untuk mencari beberapa buku sumber materi belajar dengan masih membawa tote bag berisi satu kotak kukis yang ingin ia berikan untuk Dhuha. Mana tau nanti berpapasan di tengah jalan, Dania bisa memberikannya secara langsung.

“Dania!”

Mendengar namanya dipanggil dari arah belakang, Dania reflek menoleh.

“Nih, tanda tangan.” Seseorang yang memanggil Dania tadi menyodorkan spidol dan meminta Dania untuk memberikan tanda tangan di tas yang dibawa oleh temannya. Iya, tas. Karena, pertama ia tidak membawa buku atas sejenis kertas lainnya. Kedua, tas yang dibawa temannya itu terlihat sudah dipenuhi oleh tanda tangan beberapa orang lainnya.

“Kayaknya hasil jualan batagor lo laris ya. Lebih dari cukup buat beli tas baru.” Ujar Dania sambil tersenyum.

“Yaa.. rencananya sih mau jualan tahu bacem juga biar duit gue lebih banyak lagi.” Balas seseorang itu dengan kekehan kecil.

Dania mendesis mendengar itu.

“Sini.” Dania mengambil spidol dan tas yang akan ia tanda tangani.

Setelah selesai, Dania mengembalikannya kepada seseorang itu.

“Oke. Makasih Tahu Bacem.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, seseorang itu langsung berlari meninggalkan Dania sambil tertawa karena tau gadis itu akan memarahinya karena memanggilnya dengan sebutan ‘Tahu Bacem’.

“Dasar Rafa tukang batagor bau asem!!”

.

Di perpustakaan,

Hari ini Dania memutuskan untuk meminjam buku geografi terlebih dulu karena memang ia cukup sulit memahami materi pada pelajaran tersebut.

Dania terus menelusuri rak buku-buku ilmu pengetahuan sosial namum masih belum menemukan buku yang dicari. Sampai akhirnya ia menemukan satu buku yang ia cari namun terletak di rak paling atas. Gadis itu berdecak kesal karena keberadaan buku yang cukup tinggi membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mengambil buku tersebut.

Beberapa menit Dania berusaha mengambilnya tapi masih belum berhasil. Ia menghela napas mencoba untuk sabar. Setelah Dania mencoba untuk mengambilnya lagi, tiba-tiba satu tangan seseorang yang nampak lebih tinggi dari gadis itu berhasil dengan mudah meraih buku incaran Dania tersebut.

Dania menoleh kepada orang itu. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa seseorang yang telah membantunya adalah… Dhuha.

“Nih. Nanti kalo lo udah selesai gue yang pinjam ya.” Dhuha menyodorkan buku tersebut kepada Dania.

Dania menelan ludah mendengar itu dan hanya membalasnya dengan anggukan.

Setelah membantu Dania mengambil buku yang berada di rak atas, Dhuha meninggalkan Dania yang masih diam mematung.

Dania tersenyum salah tingkah setelah menetralisir pikiran dan hatinya. Gadis itu baru menyadari ada sesuatu yang ia bawa di tangan kirinya. Kukis untuk Dhuha!

Dania dengan terburu-buru membawa buku geografi yang akan ia pinjam ke meja layanan sirkulasi. Setelah aktifitas peminjaman selesai, Dania dengan cepat keluar perpustakaan. Ia yakin Dhuha masih belum jauh. Dan benar saja, Dania berhasil menyusul Dhuha yang sudah sampai di belokan menuju tangga.

“Dhuha tunggu!” panggil Dania sambil berlari kecil.

Dhuha menoleh.

“Kenapa?”

Dania terdiam sejenak. Ia mengambil sekotak kukis yang ada di dalam tote bag dan menyodorkannya pada Dhuha.

“B-buat kamu.”

Awalnya Dhuha menatap Dania bingung. Tapi akhirnya laki-laki itu menerima pemberian Dania.

“Makasih ya.” ucap Dhuha dengan diiringi senyuman tipis.

“Iya.”


Continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi Berlian

Bumi Berlian