Bumi Berlian

 Part 1 - Tawa yang Padam


Malam ini hujan turun. Saat hujan, biasanya Elin akan menasihatiku dengan kalimat,

"Bumi, hujan itu berkah dari Tuhan. Gak boleh benci sama sesuatu yang dikasih oleh Tuhan."

Dia juga pernah bilang,

"Aku suka kalau hujan turun. Apalagi waktu malam. Aku bisa tidur nyenyak."

Berlian. Apa malam ini kamu tidur nyenyak?

Aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Elin di hidupku. Pada notifikasi yang tak pernah muncul, pada nama "Berlian" yang tersimpan di ponselku.

Meski begitu, aku tetap sering mengiriminya pesan.


"Elin, kamu baik-baik saja, kan?"

"Kalau Elin butuh teman, aku di sini."

"El, es krim strawberry yang sering kita beli itu ada topping baru, lho."


Tak ada satu pun yang dibaca. Aku menatap huruf-huruf itu, lalu membiarkannya tenggelam oleh pesan-pesan baru yang terus kukirim. Sama seperti Elin yang menghilang dariku, lalu membiarkanku mulai terbiasa tanpanya. 

Aku rindu pada gadis itu. Gadis berambut panjang yang suka menghiasi rambutnya dengan jepitan warna-warni. Aku pernah memberikannya sepasang jepit rambut berbentuk buah kesukaannya - strawberry. Aku masih ingat betul reaksinya saat kuberikan benda itu,

"Terima kasih, Bumi! Lucu banget. Aku pakai besok." 

Ucapan terima kasih dengan senyuman manis itu, tulus hanya untuk benda kecil sederhana yang aku berikan untuknya.

Tapi, seperti yang pernah aku bilang, saat senyuman dan tawa mulai pudar dari diri gadis itu, ia tidak pernah lagi menghias rambutnya dengan jepitan warna-warni, atau bando berwarna pastel saat ia bosan dengan jepit rambutnya.

Ia tetap datang ke kampus. Tapi dengan badan yang lesu. Tatapannya sering kosong. Ia mulai menghindari sentuhan - bahkan saat aku hanya bermaksud menepuk bahunya, ia mundur selangkah. Wajahnya terlihat ketakutan.

Aku tidak mengerti waktu itu. Tapi kini aku sadar, itu adalah kesalahan terbesarku. Mengira bahwa diamnya hanya lelah. Bukan karena luka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi Berlian

Tsabira & Dhuha Nya