Tsabira & Dhuha Nya
Chapter 10: Kasihan
Hari ini MIS mulai melaksanakan sesi pembuatan buku tahunan sekolah atau BTS yang dimulai dengan foto organisasi. Dania dan teman-teman dari organisasi seni lainnya juga sudah siap dengan baju organisasi mereka yang didominasi warna carmine red.
“Ciee.. yang hari ini foto pakai baju couple sama crush nya.” Ujar Nara menggoda Dania.
“Apaan sih? Tiap hari juga couple kok, sama lo juga. Pakai baju sekolah.” Balas Dania dengan kekehannya.
“Ya beda lah, Daniatun. Meskipun baju lo samaan terus sama dia tapi gak pernah foto bareng kan?”
“Ya gak usah diperjelas juga gak pernah foto barengnya.” Dania menjawab dengan manyun.
“Ya udah sihh.. yang penting hari ini bisa se-frame bareng.” Ujar Nara mencoba menyemangati Dania dengan menaik-turunkan alisnya.
.
Di Lapangan,
Sesi foto mereka akan dimulai sebentar lagi. Tapi sedari tadi Dania masih saja celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang malas dia lihat ketika bertemu, tapi ia cari ketika tidak ada.
“Ayo, guys atur posisi!” perintah Hana kepada teman-temannya.
“Ke mana ya? Kok gak ada sih?” batin Dania ketika sesi foto dimulai dan yang dicari masih belum terlihat batang hidungnya.
Dan sampai sesi foto organisasi mereka selesai, Dhuha benar-benar tidak terlihat wujudnya.
Gak jadi deh foto bareng.
.
“Gimana? Senang udah foto bareng?” tanya Nara ketika Dania memasuki kelas dan duduk di sampingnya.
“Foto bareng apaan? Orang dia-nya gak ada.” Jawab Dania sambil menghembuskan napas lesu.
“Loh? Ke mana emang?”
“Lomba di luar kota. Paling besok atau lusa juga pulang.”
Bukan Dania yang menjawab. Tapi cowok yang duduk di barisan belakang mereka. Cowok yang selalu membuat Dania emosi namun sayangnya menyimpan banyak informasi tentang Dhuha.
“Tau dari mana, lo?”
Nara membalikkan badan dan bertanya pada Rafi.
“Gue tau semua soal Dhuha.” Jawab Rafi dengan raut bangga dan membusungkan dada.
“Dih! Emaknya kali lu!” balas Nara tidak santai.
Sementara Dania yang mendengar bahwa Dhuha benar-benar tidak masuk sekolah hari ini hanya tertunduk lesu.
“Malas banget. Gak ada pemandangan hari ini.” Gumam Dania. Gadis itu lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.
.
Besoknya,
“Bosan! Gak ada pemandangan.” Ujar Dania dengan raut bete.
“Ikut senam aja sana, senam otak. Biar bersih tuh otak lo, gak mikirin Dhuha terus.”
Nara memberikan saran absurd-nya ketika melihat Dania seperti kehilangan semangat hidup dari kemarin sejak Dhuha tidak masuk sekolah.
“Ck, gue mau ke kelas Aisha aja deh. Mau ikut gak?” tawar Dania.
“Gak ah, gue ngantuk. Mau tidur.”
Semenjak pembuatan Buku Tahunan Sekolah, kelas 12 memang lebih sering tidak belajar. Hari ini saja mereka akan membuat video catatan akhir sekolah di lapangan dengan seluruh angkatan.
.
“Perhatian kepada seluruh teman-teman kelas 12, harap segera berkumpul di lapangan. Karena kita akan segera memulai pembuatan video catatan akhir sekolah. Terima kasih.”
Suara Ketua OSIS yang bersumber dari microfon menggema di seluruh area sekolah.
“Ke kelas gue dulu ya, Sha. Ntar ngambek lagi si Nara kalo gk diajak bareng.”
“Iya.”
Belum sampai di koridor depan kelas 12 IPA 4, Dania dan Aisha sudah dikejutkan dengan suara cempreng Nara yang berteriak memanggil Dania di tengah ramainya kerumunan siswa-siswi lain.
“Daniaaa.. Daniaa!”
“Apa sih woi?! Banyak orang! Gak usah teriak-teriak!” Aisha merutuki Nara karena merasa beberapa orang melihat ke arah mereka.
Sementara yang dimarahi tidak menghiraukan dan malah memberi tau Dania kalau,
“Pemandangan lo udah balik.”
“Hah? Mana?” tanya Dania antusias seperti kembali mendapatkan semangat hidupnya yang sempat hilang sejak kemarin.
“Ada tadi, gue lihat dia di depan kelasnya.” Jawab Nara.
Dania berusaha mencari dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
“Sambil jalan yuk. Udah ramai tuh di lapangan.” Ajak Aisha pada kedua temannya.
Sementara Dania, bahkan sambil berjalan ia tetap celingak-celinguk mencari keberadaan ‘pemandangan’-nya.
“Mana sih, Naar? Katanya tadi ada di-…”
Ucapan Dania terhenti ketika ia menoleh ke belakang dan mendapati seseorang yang dicari berada tepat di belakangnya.
Dhuha berjalan mendahului Dania dan teman-temannya, sedangkan Dania masih terkejut dengan yang terjadi barusan.
“Benar kan, gak bohong gue mah.” Ujar Nara setelah Dania melihat sendiri bahwa Dhuha memang benar-benar masuk sekolah hari ini.
.
Pembuatan video catatan akhir sekolah sudah berakhir 10 menit yang lalu. Menyisakan mata-mata sembab siswa-siswi kelas 12 yang menangis terbawa suasana haru. Apalagi beberapa bulan ke depan mereka akan melaksanakan ujian akhir sekolah dan setelah itu mereka tidak akan bertemu lagi di sekolah sampai acara purnawiyata.
“Dan, lo gak lihat tadi Dhuha nangis di tangga?” tanya Aisha pada Dania.
“Enggak. Lo lihat?”
“Iya. Gue gak lihat banget sih, soalnya dia nunduk. Tapi gue tau dia lagi nangis.” Jelas Aisha.
“Tuh orangnya tuh.” Nara menunjuk ke arah lapangan di lantai bawah menggunakan dagu. Tempat Dhuha berdiri sekarang. Laki-laki itu Nampak sedang dirangkul temannya dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.
“Kasihan.” Gumam Dania menatap sendu ke arah Dhuha.
Aisha dan Nara menatap Dania geli namun iba.
“Iya kasihan. Mana masih muda.” Ujar Nara dengan wajah polosnya.
“Gue sih lebih kasihan sama lo berdua. Yang satu kelewat bucin yang satu kelewat beg*.”
Lambaikan saja bendera putihmu, Aisha.
Continued...
Komentar
Posting Komentar