Tsabira & Dhuha Nya

Chapter 9: This Boy Again?!


Hari-hari Dania di kelas 12 berjalan lancar dengan dibumbui persoalan tugas yang datang tiada henti, ulangan harian yang hampir setiap minggu tidak pernah kosong seperti siswa SMA pada umumnya.

Belum lagi di semester genap ini, di sekolahnya setiap tahun selalu diadakan sendratasik yang diselenggarakan untuk pengambilan nilai praktek ujian seni budaya kelas 12. Setiap kelas bahkan sudah mempersiapkan acara ini dari semester ganjil.

Dan hari ini baru diumumkan bahwa bulan depan akan diadakan Munaqosah Tahfidz Quran bagi siswa yang ingin diujikan hafalannya selama menempuh pendidikan di MIS terkhusus kelas 12 yang sebentar lagi akan lulus.

.

Dania berjalan gontai menuju kantin sendirian karena kedua temannya, Nara dan Aisha sedang sibuk dengan urusan masing-masing saat ini. Aisha yang sibuk belajar untuk ulangan harian ekonomi setelah jam istirahat, dan Nara yang sedang UH lisan susulan mata pelajaran fiqih di ruang guru.

Sesampainya di kantin,

Dania celingak-celinguk melihat area kantin. Sebenarnya ia malas jika harus membeli makanan di kantin. Bukan karena rasanya tidak enak, tapi karena terlalu banyak pilihan makanan, ia jadi bingung ingin membeli jajan apa. Ujung-ujungnya kalau tidak mengikuti yang dibeli Nara dan Aisha, pilihannya selalu jatuh pada siomay atau cilok. Dan saat ini gadis itu memutuskan berjalan ke arah stand siomay langganannya.

Setelah membayar, Dania berencana membawa semangkuk siomay yang dipesannya itu kembali ke kelas untuk ia santap di sana. Tapi di tengah jalan, segerombol siswa laki-laki berlarian dari arah depan Dania dan…

Brukk..

Semangkuk siomay yang berada di genggaman Dania jatuh berserakan di lantai. Melihat makanan yang baru ia beli dan belum sempat disantapnya itu sudah dalam keadaan mengenaskan, Dania menatap tajam para siswa laki-laki yang menabraknya tadi.

Sss-sorry, sorry..” salah satu dari mereka meminta maaf sambil meringis melihat raut wajah Dania yang mulai tersulut emosi.

“Tuh siapa yang mau ganti siomay gue?” tanya Dania pada sekelompok laki-laki di depannya itu.

Tidak ada yang menjawab.

“GAK ADA YANG MAU?! Makanya di tempat ramai tuh gak usah banyak tingkah!”

Dania dengan perutnya yang keroncongan sejak sejam yang lalu sudah tidak bisa menahan amarahnya.

Lagian sih, cewek lagi kelaparan disenggol.

“Gue ganti, Dan.” salah satu di antara siswa laki-laki itu yang juga Dania kenali membuka suara.

“Pada gak mikirin orang lain kalo jalan. Gue juga bayar kali sekolah di sini.”  Tanpa menghiraukan ucapan seseorang itu, Dania melengos dari hadapan sekelompok laki-laki yang membuatnya gagal menyantap siomay langganannya.

.

Saat ini Dania tengah duduk di kursi yang ada di taman sekolahnya, tempat ia biasa menenangkan diri jika sedang emosi atau badmood.

“Dan,” setelah sekian lama, suara laki-laki yang tidak asing itu hari ini kembali terdengar di telinga Dania. Setelah tadi ia yang mengatakan untuk mengganti siomay Dania yang jatuh.

Hufftt… Apa lagi ini? Dania sudah tidak ingin berurusan dengan manusia satu ini, Tuhan.

Gadis itu menghembuskan napas panjang sebelum menoleh kepada pemilik suara yang memanggilnya.

“Nih,” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan semangkuk siomay kepada Dania.

“Gak usah,” balas Dania ketus.

“Gapapa, ambil aja. Lo belum makan kan. Gue juga salah sama temen-temen yang lain. Sorry ya?”

Mendengar itu Dania malah memalingkan wajahnya.

“Gue bilang gak usah,” jawaban Dania masih sama.

“Ambil dong, Daan. Gue beli pakai duit gue sendiri lho ini.” Laki-laki itu masih berusaha supaya Dania menerima semangkuk siomay yang ia beli untuk mengganti milik Dania yang jatuh tadi.

“Lo pikir gue beli yang tadi gak pakai duit gue sendiri!?” pernyataan laki-laki itu malah membangkitkan emosi Dania kembali.

“Yaa… mangkanya biar duit kita gak sama-sama sia-sia, ambil ya.”

Di tengah perdebat tentang siomay, bulir-bulir air dari langit yang memang sudah abu-abu sejak tadi mulai jatuh. Dania merasakan setitik air mengenai hidungnya. Keduanya menatap keatas, rintik air itu lama-kelamaan mulai turun dengan deras.

Duhh… Dan, udah ambil aja yaa, pleasee. Hujannya mulai deras, nih.” Laki-laki itu membujuk Dania dengan muka memelas, berharap kali ini Dania menerimanya.

Tidak ingin dirinya kebasahan akibat keadaan hujan yang semakin deras dan perdebatan mereka semakin panjang, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengambil semangkuk siomay yang berada di genggaman laki-laki di depannya. Lagi pula saat ini rasa lapar sepertinya semakin mengganggu perutnya.

Ck.. maksa banget sih! Ya udah sini.” Setelah mangkuk berisi siomay itu beralih ke tangannya, tanpa berkata apapun lagi Dania langsung berlari menuju kelasnya dengan tangak kiri membawa mangkuk dan tangan kanan yang ia taruh di atas dahi guna menghindari wajahnya terkena lebih banyak air hujan.

.

“Gimana, Nar UH lo tadi?”

Dania bertanya pada Nara soal UH susulan di tengah perjalanan mereka menuju mushola MIS untuk melaksanakan shalat zuhur.

“Yaa.. lumayanlah.” Jawab Nara seadanya.

Sampai tiba di depan mushola, Dania mendecak kesal karena orang yang sedang tidak ingin dia lihat wujudnya malah terpampang jelas dihadapannya.

Ck, kenapa harus ketemu di sini sih?!”

“Hadeh… begitu syulit lupakan Dhuha~~ apalagi Dhuhaa artiis~~

Dania menatap Nara kaget.

“Suka spontan uhuy nih anak.” Gumam Dania menanggapi nyanyian Nara.

“Susah emang, Dan punya crush artis, mah. Suka muncul di mana-mana. Kuat-kuatin mental aja ya.” ujar Nara dengan disertai senyuman manisnya.

Dania hanya menggelengkan kepala dan berlalu meninggalkan Nara yang masih bertahan dengan seyumannya.


Continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi Berlian

Tsabira & Dhuha Nya

Bumi Berlian