Tsabira & Dhuha Nya

 Chapter 11: Past and Present


“Woi Tahu Bacem, minggir aku mau lewat!”

Dania yang sedang berjalan terkejut mendengar teriakan seorang anak laki-laki dengan sepeda hitam yang sebaya dengannya dari arah belakang.

“Apaan sih?? Emang ini jalan nenek kamu!?” balas Dania kesal.

Gadis itu kembali berjalan sedangkan anak laki-laki yang berada di belakangnya mendecak kesal.

“Cepetan dong jalannya!”

“Berisik! Dasar tukang batagor jelek!”

Anak laki-laki itu mulai jengah melihat langkah Dania yang sangat lambat menurutnya.

“Udah naik sini. Aku antarin aja. Jalan aja lama banget!”

“Gak!”

“Naik gak?! Aku tabrak nih.” Ancam anak laki-laki itu.

“Apaan sih ngancam-ngancam begitu?” balas Dania jengkel.

“Makanya naik buruan!”

Dengan terpaksa Dania menuruti perkataan anak laki-laki itu.

Gadis itu berdiri menginjak besi di bagian belakang sepeda dengan tangan memegang bahu anak laki-laki itu, dan…

Wuusshh…

Anak laki-laki itu mengayuh sepedanya dengan sangat cepat.

“Rafaaaa…! Gak usah ngebut-ngebut!!” teriak Dania dengan suara cemprengnya.

“Biarin. Siapa suruh jalan kayak siput!”

Gadis itu semakin mengeratkan pegangan tangan kirinya di bahu anak laki-laki yang diketahui bernama Rafa itu. Sedangkan tangan kanan nya ia gunakan untuk memukul kepala Rafa.

“Aduh! Gak usah nabok-nabok dong!”

“Biarin. Siapa suruh ngebut-ngebut!”

Begitu seterusnya pertengkaran dua anak SD itu di perjalanan menuju rumah Dania.

.

Hari ini adalah pelaksanaan sendratasik. Dan karena kelas 12 IPA 4 mendapat giliran tampil pertama, jadi Dania yang mendapat tugas menjadi penari-di mana dia harus menggunakan make-up yang menurutnya cukup tebal-bisa segera menghapusnya.

Make-up dari jam 3 subuh. Selesai jam 6 pagi. Jam 9 udah dihapus. Kenapa sih?”

Nara mengocehi Dania yang sudah menghapus riasan di wajahnya dan mengganti kostum penari-nya dengan blouse dan loose pants berwarna hitam dengan hijab senada dan id card yang menggantung di lehernya.

“Malas gue dandan tebal-tebal kayak begitu. Malu ah!” jawab Dania.

Yee.. kan bagus kalau foto sama Dhuha pakai make-up.” Ujar Nara lalu memajukan bibirnya.

Dih! Tambah parah lagi itu mah. Mendingan begini,” ucap Dania melihat tubuhnya sendiri dari dada hingga kaki yang ditutupi sneakers putih.

Maching juga sama outfitnya Dhuha.” Lanjut Dania dengan senyum tipis.

“Lo beneran mau foto bareng sama Dhuha?” tanya Nara dengan senyum menggoda.

Sebelum menjawab, Dania nampak berfikir sejenak.

“Pingin sih, tapi gak berani ngajak. Lagian dia juga lihat gue tadi di belakang panggung dengan make-up gue kayak gitu. Gue malu.”  Ucap Dania merasa tidak percaya diri.

Dania memejamkan matanya. Kembali teringat saat tampil tadi, Dhuha sempat melihatnya dengan kostum dan wajahnya yang full make-up.

 “Harus pede dong, Daniaa…”

“Gak mau ah! Pede juga kalau gue gak ngerasa jadi diri gue sendiri percuma.”

Mendengar ungkapan Dania yang ada benarnya, Nara menghela napas dan meng-iya-kan saja perkataan temannya itu.

“Ya udah deh, senyaman lo aja. Kantin yuk!”

.

“Gue mau beli ayam geprek. Laper. Gak sempat sarapan tadi pagi. Lo mau apa?” tanya Nara pada Dania yang masih sibuk memandang penjuru kantin untuk memilih makanan apa yang akhirnya akan ia pesan.

“Gue mau beli es teh aja.”

“Ya udah gue pesanin sekalian aja ya?” tawar Nara.

“Iya, makasih.”

Sementara Nara memesan makanan dan minuman mereka, Dania memilih duduk di meja pojok kanan kantin dekat pintu masuk kantin-yang sebenarnya tidak ada pintu.

Setelah selesai dengan pesanan-nya, Nara menyusul Dania yang sudah duduk memainkan ponselnya.

“Kelas Aisha kapan tampil ya?” tanya Dania berusaha memecah keheningan di antara mereka. Ditambah kondisi kantin yang sepi, hanya ada beberapa siswa yang mereka tidak begitu kenal. Karena kebanyakan siswa-siswi berada di aula sekolah untuk menyaksikan pertunjukan sendratasik dari kelas-kelas yang sedang giliran tampil.

“Gak tau juga. Tapi sekarang lagi sibuk banget tuh ibu pejabat kayaknya.”

Dania hanya tersenyum menanggapi ucapan Nara.

Di tengah perbincangan kedua gadis itu, mata Nara menangkap seseorang yang sempat mereka bicarakan tadi berjalan ke arah kantin.

“Mau gue bilangin gak?”

Pertanyaan Nara yang tiba-tiba membuat Dania bingung.

“Hah? Apaan?” tanya Dania dengan dahi mengkerut.

“Tuh.”

Nara menunjuk Dhuha dengan dagunya. Iya. Itu Dhuha.

Dania menoleh ke arah yang ditunjuk dan langsung memasang muka kaget ketika melihat laki-laki itu. Gadis itu kembali berbalik dan mematung.

“Woi! Mau gak?”

Hening. Tidak ada jawaban dari Dania.

Tapi tanpa menunggu persetujuan Dania, Nara langsung memanggil laki-laki itu ketika dia lewat tepat di samping mereka.

“Dhuha!” panggil Nara.

Mendengar namanya dipanggil, Dhuha berhenti dan menoleh.

“Dia mau foto sama lo.” Ujar Nara menunjuk Dania.

Melihat yang dilakukan Nara, Dania serasa tidak dapat menggerakan tubuhnya. Tiba-tiba ia merasa dingin disekujur tubuhnya seperti saat pertama ia memanggil Dhuha pada saat acara penyambutan pihak yayasan tempo hari.

“Eh, enggak! Gak ada-gak ada!” Sahut Dania dengan wajah panik yang berusaha ia sembunyikan sembari menggelengkan kepala.

“Ayo!”

Mendengar bantahan Dania, Dhuha bukannya pergi tapi malah menerima apa yang dikatakan Nara dengan santai.

“Gak! Gak usah-gak usah. Udah lo pergi aja.” Ucap Dania masih berusaha menggagalkan rencana Nara.

“Lo gak lagi buru-buru kan?” tanya Nara untuk memastikan rencananya tidak mengganggu waktu Dhuha.

“Nggak. Ayo kalo mau foto.” Jawab Dhuha dengan santai. Tetapi jawaban itu malah membuat Dania semakin panik.

“Ayo! Gue fotoin.”

Nara semakin semangat karena rencananya hampir berhasil.

“Ayo Daniaa… kamera udah siap nih.” Nara memberitahu Dania yang masih tidak beranjak dari tempatnya.

Dania berdecak. Gadis itu akhirnya berdiri dan mengambil posisi di sebelah kiri Dhuha.

Mengetahui rencana nya sedikit lagi akan berhasil sempurna, Nara tersenyum penuh kemenangan. Gadis itu mulai mengarahkan kamera belakang ponselnya ke arah Dhuha dan Dania berdiri.

Dania memandang sekilas Dhuha yang sudah memasang senyum-yang menurut Dania sangat manis. Lalu ia juga ikut tersenyum menatap kamera ponsel Nara.

“Satu… dua… ti..ga.”

Cekrek

Setelah memotret beberapa kali, Nara menurunkan ponselnya dan melihat hasil fotonya.

“Udah, makasih ya.” ucap Nara pada Dhuha. Laki-laki itu mengangguk meng-iya-kan lalu pergi dari hadapan Dania dan Nara.

Dania masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi sampai-sampai yang mengucapkan terima kasih pada Dhuha adalah Nara.

“Naraaaa! Gue gak mimpi kan??”

Setelah beberapa detik terdiam, Dania mulai bersuara.

Nara menaik-turunkan alisnya. Ia memamerkan ponselnya yang menampilkan foto Dania dan Dhuha yang baru saja diambil.

“Aaaaaaaaa….”

Dania melompat dan berteriak girang setelah melihat potret dirinya yang berdiri di sebelah Dhuha yang tersenyum lebar. Seorang Dhuha yang setiap bertemu atau berpapasan dengannya tidak pernah memasang ekspresi apapun. Tapi hari ini, bahkan setelah Dania berusaha membantah perkataan Nara tentang ia yang ingin mengajak foto bersama, Dhuha tetap dengan senang hati menyetujui ajakan itu.

“Kalo gak gue paksa gak bakal dapat nih foto,” ujar Nara dengan bangga.

“Mau gue kirim gak?” lanjut Nara.

“Mauu!”

.

Tidak lama setelah Dhuha pergi, pesanan Nara dan Dania datang. Mereka menikmati makanan dan minuman sembari mengobrol tentang penampilan mereka tadi.

Tapi di tengah perbincangan kedua gadis itu, beberapa cowok datang menghampiri dan tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya,

“Eh, nonton Antares gak?”

Dania dan Nara yang tidak merasa kenal dengan cowok itu sempat terdiam bingung sesaat sebelum Dania mengangguk dan menjawab “Iya.”

“Menurut lo dia mirip gak sama yang meranin Megan?” tanya cowok itu lagi sambil menunjuk salah satu temannya. Kali ini lebih condong ke Dania karena ia yang menjawab pertanyaan cowok itu tadi.

Nara yang mendengar pertanyaan absurd itu menganga tidak percaya. Bisa-bisanya cowok itu menanyakan hal random pada dua gadis yang tidak begitu mereka kenal.

“Nggak.” jawab Dania sambil menggeleng kan kepala dengan polosnya.

Mendengar jawaban Dania, beberapa cowok itu langsung tertawa. Sementara itu pandangan Dania tertarik pada salah satu cowok yang tidak asing baginya. Cowok itu juga ikut tertawa.

Nara memegang kepalanya dengan kedua tangan. Berusaha mencerna apa yang dilakukan oleh cowok-cowok itu.

“Oke. Thank you.” Ucap salah satu cowok yang bertanya pada Dania tadi. Kemudian mereka beranjak dari meja Dania dan Nara. Tapi sebelum semua cowok itu pergi, satu-satunya di antara mereka yang Dania kenal mengatakan,

Bye, Dan.”

Dania hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan itu.

“Ternyata ada yang lebih absurd dari gue.”  Ujar Nara sambil menggelengkan kepala frustasi.

Tapi tunggu, sepertinya Nara merasa ada yang berbeda.

“Sejak kapan lo mulai teguran lagi sama Rafa?”


Continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi Berlian

Tsabira & Dhuha Nya

Bumi Berlian