Tsabira & Dhuha Nya
Chapter 8: It’s Hurts
Mood Dania masih bagus sampai hari ke-lima setelah kejadian pertama kalinya Dhuha menyebutkan namanya. Saat ini Dania bersama dengan para bestie nya sedang duduk melingkari meja seperti akan melakukan rapat yang sangat penting.
“Sha, lo mau ngomong apaan sih dari tadi gak jadi-jadi?” Dania bertanya pada Aisha yang katanya akan memberi tau sesuatu sejak di kantin tadi.
“Eeee.. gak jadi, deh. Hehe…” jawab Aisha agak ragu antara ingin memberi tahu sesuatu itu atau tidak.
“Kebiasaan lu ya. Kalo gak mau ngasih tau tuh dari awal kagak usah ngomong apa-apa.” Nara malah mengocehi Aisha.
“Tau lu, Sha. Bikin orang penasaran aja. Udah sih kasih tau aja.” Dania yang tidak bisa terus berada dalam rasa penasaran masih berusaha membujuk Aisha.
“Aduuhh, gimana ya?” ucap Aisha seakan bertanya pada dirinya sendiri.
Di tengah perbincangan ketiga gadis itu, seorang laki-laki yang selalu membuat Dania merasa naik darah setiap hari, datang menghampiri ketiganya.
“Assalamu’alaikum, ibu-ibu!” Rafi menyapa Dania, Nara, dan Aisha dengan ramah. Menurutnya. Tapi tidak menurut ketiga gadis itu.
“Kenapa lo senyum-senyum begitu?” tanya Nara dengan nada tidak santainya.
“Yang gak jawab salam gue semoga gak nikah-nikah.”
“Mulut lo ya! Enteng banget nyumpahin orang.”
Dania yang kaget mendengar ucapan Rafi langsung merutuki laki-laki itu.
“Makanya orang ngucap salam tuh dijawab.”
“Wa’alaikumsalam.” Aisha menjawab salam dengan ekspresi datar karena malas meladeni laki-laki itu.
“Nah! Ini nih calon istri sholeha. Masya Allah…”
Rafi memuji Aisha yang menjawab salamnya.
“Dih. Najis!”
Aisha memasang ekspresi jijik mendengar pernyataan Rafi. Sementara yang bersangkutan hanya terkekeh saja.
“Daniaa, gimana? Masih suka sama Dhuha? Tapi dia gak suka sama lo ya, Dan. Kemarin abis jalan bareng, lagi. Kalo lo mau cari gebetan baru gue bantuin deh. Dari pada lo suka sama orang, tapi orangnya gak suka lo balik. Ya kan?”, ujar Rafi yang membuat Dania sedikit terkejut.
“Jalan bareng?”
“Yoi.”
Sementara Aisha yang sebenarnya mengetahui kabar itu tengah menahan rasa geramnya pada Rafi. Pasalnya kabar itulah yang ingin dia beritahu pada Dania dan Nara tadi. Tapi akhirnya ia urungkan untuk menghindari kekecewaan yang pasti akan dirasakan Dania.
“Fi, mending lo pergi deh sekarang. Sebelum sepatu gue mendarat DI MUKA LO!” Aisha mengusir Rafi dengan intonasi tinggi di akhir kalimatnya.
“Dih, baru juga dipuji calon istri sholeha udah marah-marah aja.”
“Dhuha jalan bareng sama siapa?” tanya Dania ingin mendapatkan penjelasan lebih.
“Gak tau deh. Tapi kayaknya adik kelas.” Jawab Rafi seadanya.
“Itu pacarnya?” tanya Dania lagi.
“Maybe. Udah ah, ntar gue beneran dilempar sepatu sama temen lo. Ancur muka ganteng gue.”
Bukan Rafi namanya jika tidak mengucapkan kalimat narsis.
Setelah Rafi menghilang dari hadapannya ketiganya, ke-overthinking-an seorang Dania pun dimulai.
“Sha. Sesuatu yang mau lo sampein ke kita tadi... tentang itu?” Dania bertanya pada Aisha untuk memastikan.
“I-iya, gue mau kasih tau itu tadi.” jawab Aisha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Masa sih Dhuha punya pacar?” Dania bermonolog.
“Gak ada yang gak mungkin, bestie.” Nara menanggapi ucapan Dania barusan.
“Tapi.. kayaknya gak deh. Gak lah. Gak mungkin dia pacaran. Masa sih seorang Dhuha pacaran?” Dania berusaha meyakinkan dirinya bahwa Dhuha tidak punya pacar.
“Dia juga manusia kali, Dan. Si Dhuha juga punya perasaan. Manusiawi lah kalo dia pacaran.” Aisha akhirnya membuka suara. Ia merasa sedikit jengkel dengan temannya itu. Mengapa Dania begitu membela orang yang bahkan tidak peduli dia hidup atau tidak.
“Yaa… Gue gak percaya aja kalo dia pacaran.” Dania masih teguh pendirian bahwa Dhuha memang tidak pacaran.
“Menurut gue ya, Dan. Lo tuh memandang Dhuha terlalu sempurna. Lo lupa kalo kita tuh sama. Kita semua manusia. Lo cuma belum tau aja buruknya Dhuha di mana. Gue ingetin deh, lo pernah suka sama orang sampai lupa mentingin diri lo sendiri. Jangan sampai itu terjadi lagi gara-gara si Dhuha,”
Semua terdiam mendengar ucapan Aisha. Terutama Dania. Ia tau Aisha mengatakan itu untuk memberinya peringatan agar apa yang ia rasakan dulu tidak terjadi lagi.
Dan Aisha, gadis itu tidak ingin masalah percintaan remaja ini mengusik ketenangan hati temannya.
“Masih banyak, Dania, laki-laki yang jauh lebih baik dari dia. Yang bisa balas perasaan lo lebih besar dari perasaan lo sendiri. Gue yakin! Perjalanan lo juga masih panjang. Jadi mau Dhuha pacaran kek, jalan bareng cewek mana kek… itu semua gak akan bisa ngerusak semuanya. Ingat itu! Gue ke kelas.”
Aisha beranjak dan meninggalkan kedua temannya begitu saja.
.
Dania memilih meninggalkan kelas dan duduk di kursi taman sekolah. Gadis itu berusaha menenangkan pikiran dan menetralkan perasaannya.
“Lah, Dan? Sendirian aje. Galau ya gara-gara Dhuha jalan sama cewek lain? Haha...”
Entah darimana munculnya, Rafi- teman tidak berakhlak Dania itu tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
“Sabar ya, Dan. Mungkin emang lo disuruh mundur kali. Karna kan Dhuha gak suka sama lo.”
Niat hati berdiam diri di taman untuk mencari ketenangan, Dania justru semakin dibuat emosi dengan kalimat yang keluar dari mulut Rafi.
Gadis itu menatap tajam dan sinis ke arah Rafi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Wajahnya saat ini memerah karena menahan amarah dan air mata karena merasa sangat kesal.
Melihat itu Rafi menunjukkan cengiran alay-nya dan langsung kabur meninggalkan Dania sendiri di taman sebelum Dania mengeluarkan semua unek-unek nya.
Tapi belum habis perasaan kesal bercampur marah yang dirasakan Dania, tanpa diminta sebelumnya, saat ini matanya mengarah pada seorang laki-laki yang menjadi awal dari semua permasalahan yang terjadi. Siapa lagi kalau bukan Dhuha Madava.
Dhuha berjalan di depan Dania dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Iya, hanya berjalan. Tapi karena perasaan Dania sedang dibuat campur aduk saat ini, dan penyebabnya adalah laki-laki itu, maka hanya dengan melihat wajahnya saja usaha Dania menahan rasa emosi dan kesal akhirnya hancur. Setetes air mata yang ingin meluncur sejak tadi pada akhirnya tidak bisa ia tahan lagi. Untuk kedua kalinya Dania menangis dan merasa sesak karena laki-laki bernama Dhuha Madava.
“hiks.. kenapa sih hiks.. orang-orang hari ini pada nyebelin, hiks.. aaaaa!!”, Dania terisak dan menahan untuk tidak teriak karena ia sedang berada di lingkungan sekolah. Jika ia berteriak malah akan mempermalukan dirinya sendiri.
“Dan.” Tiba-tiba suara Nara memanggil Dania dari belakang. Sebelum menoleh gadis itu menghapus air matanya terlebih dulu.
Belum sempat Dania menoleh ke belakang, Nara sudah mengambil posisi duduk di sebelah kiri Dania.
“Dan, gue ngerti gimana rasa suka lo sama Dhuha. Aisha pasti juga ngerti. Tapi dia Cuma gak mau lo sakit hati aja, Dan.” Nara membuka suara, mencoba memberi penjelasan pada Dania.
“Yaa, mungkin Aisha juga gak mau lo terlalu berharap sama Dhuha. Dia mau lo batasin harapan dan ekspektasi lo.” Nara yang biasanya bar-bar dan tukang ngomel mendadak bijak saat ini.
“Gue udah berusaha. Tapi tanpa gue kasih tau aja lo pasti tau, Nar. Gue pasti bohong pas gue bilang gak mengharapkan apa-apa waktu gue confess ke dia. Setiap orang juga pasti berharap perasaannya dibalas.” Jelas Dania sambil mengusap air matanya yang kembali jatuh.
“Iyaa, tapi lo harus inget ya. Gak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Termasuk Dhuha.” Nasihat Nara pada Dania.
“Lo pernah bilang kan, kalo lo pengen punya pacar tapi gak mau pacaran. Mungkin Dhuha juga ngerasa kayak gitu. Tapi balik lagi, karna dia juga manusia, dia mungkin ingin kayak temen-temennya yang suka jalan, pulang bareng, atau ke kantin bareng sama pacarnya. Tapi karena dia tau pacaran itu gak boleh, jadi dia cuma bisa deket aja. Itu sih menurut gue ya.” Jelas Nara panjang lebar.
Masya Allah ukhti…
“Gapapa, Dan. Gue percaya kok kalo Dhuha gak pacaran.” Lanjut Nara dengan menampilkan senyum manisnya.
“Makasih, Nar.” Dania berusaha menerima pendapat dan nasihat dari teman reog nya yang mendadak bijak itu.
Continued...
Komentar
Posting Komentar