Tsabira & Dhuha Nya

 Chapter 7: Interaksi


Libur lebaran telah berakhir. Setelah hari di mana Dania menangisi seorang Dhuha untuk pertama kalinya, gadis itu memutuskan untuk lebih mengontrol dirinya terhadap perasaannya pada laki-laki itu.

Karena hari ini adalah hari Senin, seperti biasa, Madeena Islamic School melaksanakan upacara rutin yang telah berakhir sekitar 3 menit yang lalu. Karena masih dalam suasana Idul Fitri, setelah upacara selesai siswa-siswi berbaris untuk bersalaman dengan guru-guru. Kegiatan ini berlangsung dengan diiringi shalawat yang dilantunkan oleh dua orang siswa laki-laki.

Dania yang sudah bersalaman dengan seluruh guru memilih untuk berdiri di sudut lapangan dekat dengan tiang basket sembari menunggu siswa lainnya yang masih bersalaman. Dania baru menyadari, sepertinya ia mengenali suara salah seorang yang bershalawat tersebut. Yaaa, sudah bisa ditebak lah ya itu siapa.

Dania mencoba memastikan apakah itu benar suara Dhuha atau bukan dengan mencoba melihat ke arah sumber suara sambil mendongakan kepala menghindari kerumunan orang-orang. Dan ternyata memang benar, suara merdu itu adalah milik Dhuha Madava. Rencana Dania yang tadinya ingin memperkuat benteng pertahanannya terhadap laki-laki itu, gagal sudah. Benteng Dania runtuh hanya dengan lantunan shalawat yang keluar dari mulut Dhuha.

Dania memejamkan matanya lalu menghembuskan napas pasrah. Sebegitu kuatnya kah magis perekat yang dimiliki oleh Dhuha?

.

Setelah upacara,

“Dan, gue ke kelas dulu ya. ngambil uang di tas.”

Hari pertama sekolah setelah libur memang belum ada materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Jadi Dania dan Aisha memutuskan untuk ke kantin setelah Aisha kembali dari kelasnya untuk mengambil uang.

Sembari menunggu Aisha, Dania memutuskan untuk masuk sebentar ke kelasnya yang bersebelahan dengan kelas Dhuha itu.

Belum sampai pintu kelas Dhuha, Dania melihat seorang siswa laki-laki menghampiri Dhuha yang kebetulan baru akan keluar dari kelasnya. Dania melihat siswa itu memberikan sebuah surat kepada Dhuha. Sepertinya itu adalah surat izin siswa lain yang dititipkan padanya.

Dania terus berjalan melewati Dhuha dan siswa laki-laki itu. Hingga terhitung dua langkah lagi untuk Dania memasuki kelasnya tiba-tiba,

“Dania.”

Dania membulatkan mata mendengar suara itu memanggil namanya dari belakang. Tubuh Dania terasa membeku.

Apa kalian tau suara siapa itu? Siapa lagi yang bisa membuat Dania mematung seperti ini kalau bukan seorang laki-laki yang sangat ingin Dania ajak berinteraksi di luar dari peristiwa ‘Dhuha, maju sedikit’ dan pernyataan jujur tentang perasaannya tempo hari.

Dhuha Madava.

Dania mengatur napas sebentar lalu menoleh ke belakang.

“Ya?”  Dania berbicara sambil menahan gemetar.

“IPA 4, kan?” Tanya Dhuha pada Dania.

“Iya.” Jawab Dania sambil mengagguk.

“Nih, ada surat izin.” Dhuha menyodorkan amplop putih berisikan secarik kertas itu pada Dania.

Dania tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menerima surat itu sambil mengangguk hingga akhirnya Dhuha pergi dari hadapannya.

Dania langsung masuk ke kelasnya, meletakkan surat itu di meja guru, lalu langsung berlari menuju kelas Aisha.

“Shaaaa!! Gue gak mimpi kan?? Pleaseee bilang kalo gue gak mimpi. Pleasee pleaseee”, Dania bertanya pada Aisha dengan hebohnya.

“Heh, kenapa sih teriak-teriak kek tarzan gini??” Aisha bingung dengan kelakuan absurd temannya itu.

“Aaaaa, Aishaaaa!!!”

“Woiii!! Kenapa siihh?? Daniaaa!” Melihat temannya yang semakin tidak jelas, Aisha malah semakin penasaran.

Apa yang sebenarnya terjadi?

“Tadi pas gue mau masuk kelas, dia manggil nama gueeee!!” Dania mengatakan itu sambil berteriak kegirangan.

“Hah?? Dhuha? Kok bisa?” Tanya Aisha yang masih belum benar-benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Tadi tuh ada cowok ngasih surat ke dia. Gue kira itu surat izin anak IPA 5. Eh, pas gue udah di depan pintu dia manggil, itu surat ternyata punya anak IPA 4. Gue kaget banget pas dia manggil nama gueee!!” Dania menjelaskan apa yang membuatnya sampai heboh begini.

“Oooh gitu. Cieee dikasih surat sama abang Dhuha, ahaiii ahahaha” Aisha yang akhirnya paham maksud Dania bisa sampai heboh seperti itu pun ikut-ikutan girang.

Iiih.. apaan, sih. Itu surat izin, gila! Aaaa.. mau guling-guling gue rasanyaa.” Belum selesai ternyata kehebohan Dania. Maklumi saja lah ya. Karena ini adalah pertama kali namanya disebut oleh seorang Dhuha secara langsung.

“Guling-guling noh di lapangan. Lebar tuh.”

“Heh, gue tampol lu ya.”

.

Entahlah mata Dania yang terlalu peka akan keberadaan Dhuha atau memang laki-laki itu yang selalu terlihat di setiap sudut sekolah. Pasalnya kali ini Dania melihat Dhuha sedang dikerumuni oleh beberapa siswi yang sepertinya adalah murid kelas 10.

Dania tidak mengerti mereka sedang melakukan apa. Tapi sepertinya para siswi itu tengah mewawancarai Dhuha untuk tugas praktikum mereka.

“Aaaa.. Kak Dhuha keren bangett!”

“Kak Dhuha! Gilaaa Kak Dhuha menang banyak. Bagi-bagi, dong!”

“Kak Dhuha follback, dong!”

Seperti itu kira-kira kalimat yang terdengar di telinga Dania saat ini.

Bikan. Itu bukan suara perempuan. Itu adalah suara para siswa laki-laki. Teman-teman Dhuha yang sedang menggodanya dari lantai dua.

Sedangkan Dhuha yang melihat dan mendengar itu hanya tersenyum sekilas sambil menggelengkan epala.

Dania? Gadis itu biasa saja. Hanya memasang ekspresi Datar melihat kelakuan rusuh teman-teman seangkatannya itu.


Continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi Berlian

Tsabira & Dhuha Nya

Bumi Berlian