Tsabira & Dhuha Nya

 Chapter 6: Who’s That Girl?


Hari Minggu begini rutinitas Dania sebagai anak rumahan adalah menonton film, makan, menonton youtube, makan, dan begitu seterusnya. Tapi karena ini adalah bulan puasa, tentu saja bagian makan harus diskip. Dan pada bulan puasa seperti ini, Dania mencoba untuk mencari tontonan yang bermanfaat.

Ketika sedang mencari-cari video untuk ditonton, tidak sengaja Dania menemukan video podcast dari channel youtube sekolahnya. Dan kalian tau siapa yang ada di tumbhnail video nya? Yaa siapa lagi kalau bukan Dhuha Madava sang ketua organisasi rumah tahfidz Madeena Islamic School.

Akhirnya Dania memutuskan untuk menonton video podcast tersebut. Sepanjang menonton, Dania bukan hanya terkagum pada seorang Dhuha, tapi dia juga mendapatkan manfaat dari isi podcast tersebut. Mulai dari tips menghafal Al-Qur’an, manfaat membaca dan menghafal Al-Qur’an, hukum puasa tapi pacaran, bukber tapi gak shalat magrib, dan lain sebagainya.

.

“Naraa, temenin ke perpustakaan yuk. Mau balikin buku.” Dania menghampiri Nara yang sedang menyalin contoh soal kimia di papan tulis.

Hadeeh… Mager banget gue, Daniaa.” Nara menjawab dengan ogah-ogahan.

Astagfirullah… bulan puasa gak boleh malas-malasan woi.”

Ck, ya udah ayo.” Akhirnya Nara bangkit dari kursinya untuk menemani Dania ke perpustakaan.

Di tengah perjalanan menuju perpustakaan, Dania melihat ke arah kelas Dhuha. Laki-laki itu sedang bersama dengan gadis yang waktu itu ia lihat saat persiapan pensi, lagi. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang menyenangkan, karena Dania melihat kedua orang itu tengah asik tertawa.

“Nar, lo tau gak nama cewek itu?” Dania bertanya pada Nara sambil menunjuk ke arah Dhuha dan gadis itu.

“Ooh, itu namanya Nadin Arafah. Kenapa lo nanyain dia?” Nara balik bertanya pada Dania.

“Kayaknya Dhuha suka sama dia deh.” Dania membuka suara.

“Tau dari mana lo?” Tanya Nara yang heran dengan pernyataan Dania barusan.

“Soalnya dia kalo sama cewek itu kayak seneng banget. Mereka juga pernah sekelas. Satu organisasi lagi.” Sambung Dania.

“Kan lo juga satu organisasi sama Dhuha.”

“Yaa, tapi kan gue gak deket sama dia.” Ujar Dania dengan wajah yang mulai murung.

“Udah, biarin aja. Lo sendiri kan yang bilang ke dia, kalo lo gak mengharapkan apa-apa dari dia.” Balas Nara yang sangat spontan dan menusuk.

“Iya sih. Ya udah lah.”

Setelah selesai dengan perbincangan tentang Dhuha dan Nadin, kedua gadis itu melanjutkan kembali perjalanan menuju perpustakaan.

.

Hari ini rumah sedikit ramai karena teman-teman dari abangnya Dania akan buka puasa di rumah mereka.

“Eh, Dania sekolah di MIS ya?” Seorang teman perempuan abangnya Dania yang ia ketahui bernama Naura yang sedang menata takjil di meja bertanya pada Dania.

“Iya kak.” jawab Dania sambil menuangkan air ke setiap gelas yang sudah disiapkan.

“Adik aku juga sekolah di MIS. Dia ikut organisasi rumah tahfidz.” Sambung Naura.

“Oh iya? Namanya siapa?” Tanya Dania pada Naura.

“Nadin Arafah.”

“Hah? o-oh, Nadin itu adiknya kak Naura?” Dania kaget mendengar nama yang disebutkan Naura. Nama itu adalah nama yang disebutkan Nara tadi siang, saat Dania bertanya siapa nama gadis yang sedang bersama dengan Dhuha.

“Iya, Dania kenal?”

Eee, gak juga sih, cuma tau aja.”Jawab Dania disertai senyuman tipis.

Kenapa dunia terasa sangat sempit saat ini? Gadis yang beberapa kali Dania lihat bersama Dhuha itu ternyata adalah adik dari sahabat abangnya sendiri.

.

“Kayaknya beneran deh Dhuha suka sama Nadin.” Dania yang sedang melamun melihat ke luar jendela kelas tiba-tiba membuka suara.

“Nadin siapa?” tanya Aisha yang tidak mengenal siapa yang dimaksud dengan Nadin.

“Temen sekelasnya pas kelas sepuluh. Temen organisasi juga. Adiknya sahabat abang gue lagi.” Jawab Dania dengan tidak merubah arah tatapannya.

“Dunia jadi kayak sempit banget gini, kenapa sih? Harus gitu, cewek yang deket sama Dhuha tuh adiknya temen abang gue.” Sambung Dania lagi.

“Kok cerita lo kayak fiksi ya, Dan. Kayak sinetron.” Nara memberikan tanggapannya.

“Yang bagusan dikit kek, Nar. Masa sinetron. FTV gitu.” Aisha malah ikut-ikutan Nara.

Melihat kelakuan kedua temannya, Dania hanya menghembuskan napas mencoba untuk sabar.

.

Saai ini Dania tengah berjalan sendirian menuju koperasi sekolah untuk membeli kertas HVS. Hingga dia melihat seseorang yang sudah tidak asing lagi di matanya.

Bukan. Bukan Dhuha. Orang itu adalah gadis yang beberapa kali Dania lihat sedang bersama Dhuha. Nadin.

Dania melihat Nadin sedang duduk sendirian, membaca buku di kursi taman sekolah. Dania melihat-lihat sekelilingnya. Ia heran melihat area taman yang biasanya ramai dengan siswa-siswi yang berlalu-lalang kini terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang lewat. Tiba-tiba terlintas di pikiran Dania untuk menghampiri Nadin. Hanya untuk sekedar kenalan saja. Karena kedua kakak mereka kan bersahabat.

“Nadin.” Dania memanggil gadis yang tengah fokus dengan bacaannya itu.

Nadin mendongak, melihat siapa yang menghampirinya.

“Kamu adiknya kak Naura ya?” Dania kembali melanjutkan kalimatnya.

“Iya, kok tau?” Nadin akhirnya membuka suara.

“Aku adiknya kak Deva.”

“Ooh,  jadi kamu adiknya Kak Deva?” Nadin tersenyum.

“Iya, hehe..”

“Iya. Aku pernah dikasih tau juga kalo adiknya satu sekolah.” Pernyataan Nadin hanya dibalas anggukan oleh Dania.

“Namanya siapa?” Tanya Nadin pada Dania.

“Dania.”

Ooh, kelas berapa?”

“Dua belas. IPA 4.”

“Sama, dong. Aku dua belas IPA 1.”

“Iya, udah tau.”

Kamu kan famous juga.

Di tengah perbincangan mereka, seorang laki-laki memanggil Nadin sambil berlari kecil menuju ke arah kedua gadis itu.

“Nadin!”

“Kenapa?” Tanya Nadin saat laki-laki itu sudah berdiri di depannya.

“Dicariin Dhuha tuh. Gak tau dah kenapa.”  Jawab laki-laki itu masih dengan mengatur napasnya.

Mendengar itu Dania langsung merubah ekpresi wajahnya dari senyuman ramah menjadi wajah yang datar tanpa ekspresi sedikit pun. Sedangkan Nadin menutup buku yang ia baca tadi dan segera berdiri.

“Duluan ya, Dania.” Nadin berpamitan kepada Dania untuk menemui Dhuha. Sepertinya.

Eh, iya.”  jawab Dania seadanya.

Nadin mulai beranjak pergi.Sedangkan Dania masih terdiam, kembali diingatkan dengan pikirannya sejak beberapa hari yang lalu tentang Dhuha yang menyukai Nadin. Ada sesuatu berbeda yang Dania rasakan saat ini. Mengapa ia merasa sesak hanya dengan mendengar nama seseorang yang ia sukai, mencari gadis lain yang ia duga bahwa seseorang yang ia sukai itu menyukai gadis lain tersebut? Padahal, jika pun hal itu memang benar, Dania tidak punya hak untuk marah dan melarang.

Entahlah, Dania mencoba menghilangkan semua pikiran itu dengan melanjutkan perjalanannya ke koperasi sekolah yang sempat terhenti tadi.

.

Setelah kembali dari koperasi, Dania duduk di kursi panjang depan kelas. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Hari ini memang sekolah, tapi jam pelajaran ditiadakan.

Dania mengamati hal-hal di sekitarnya. Siswa-siswi yang berlalu lalang, yang berbincang bersama temannya di depan kelas, juga siswa yang akan dan baru saja selesai melaksanakan shalat dhuha. Karena kebetulan kelas Dania berhadapan dengan mushola.

Mata Dania menangkap seorang laki-laki yang sedang berwudhu di tempat yang sudah disediakan di samping mushola. Ya benar, itu adalah Dhuha Madava. Melihat laki-laki itu, Dania kembali teringat dengan kejadian di taman sekolah tadi. Dania mengamatinya sampai ia selesai berwudhu, membaca doa, dan akan masuk ke mushola.

Rasa sesak yang Dania rasakan beberapa menit yang lalu kembali muncul. Bahkan sekarang rasanya lebih parah dari yang sebelumnya. Dania mengepalkan tangan dan menaruhnya di dada kiri sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

Mata Dania mulai memanas hingga tanpa disadari bulir-bulir air bening jatuh dari mata gadis itu.

Ck, alay banget sih nangisin cowok!” ungkap Dania merutuki dirinya sendiri.

Gadis itu menarik napas dalam dan mencoba menghentikan tangisannya. Setelah merasa sedikit lega, Dania menghapus kasar sisa air mata di pipinya dan beranjak menuju toilet untuk membasuh wajah.

.

Di depan cermin toilet Dania menatap wajah sembabnya. Bertanya kepada dirinya sendiri,

Mengapa ia harus merasakan hal seperti ini? Mengapa ia harus selalu menyimpan perasaan sendiri? Mengapa ia harus selalu merasakan sesak sendiri? Mengapa ia harus selalu menyukai seseorang yang bahkan untuk sekedar menyapa saja sangat sulit? Mengapa ia harus selalu menyukai seseorang yang juga disukai oleh banyak orang? Dan mengapa ia harus selalu menyukai seseorang yang malah menyukai orang lain?


Continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi Berlian

Tsabira & Dhuha Nya

Bumi Berlian