Tsabira & Dhuha Nya
Chapter 5: Found Out
“HAH!? Confess?? Serius lo?” Nara yang kemarin tidak ada di tempat saat Dania confess, kaget mendengar cerita dari Dania dan Aisha.
“Iiiih, Nara! Gak usah teriak-teriaaak. Nanti ada temennya yang denger.” Ujar Dania atak sekaligus kesal karena volume suara Nara yang cukup keras.
“Mulut lo yaa, Nar. Gue sumpel cilok nih.” Aisha juga ikut bersuara.
“Habisnya lo berdua tiba-tiba bilang confess. Kan gue kaget. Mana gak ngasih tau gue lagi.” Nara menanggapi dengan wajah cemberut.
“Yaa o-orang mendadak. Gue juga baru bilang kemarin sama Aisha pas jalan ke parkiran mau pulang. Terus ada orangnya. Ya udah langsung aja.” Dania menjelaskan kepada Nara yang sudah menyimpan hawa-hawa bakal ngambek.
“Ck, ya udah lah. Udah kejadian juga.” Balas Nara dan dilanjutkan dengan menyantap ciloknya lagi yang tadi ia beli bersama kedua temannya di kantin.
.
“Kok gue gak liat dia ya dari tadi.” Dania melamun melihat ke luar jendela kelas sambil bermonolog.
“Lah? Kan hari ini yang ikut lomba MTQ tingkat provinsi berangkat.” Ujar Nara yang mendengar perkataan Dania.
“Loh? Hari ini ya berangkatnya?” Dania menoleh ke samping kiri, tempat Nara duduk.
“Iya. Lo gak tau?”
“Nggak.” Kembali gadis itu menatap ke arah luar jendela kelas dengan wajah lesunya.
“Baru pergi, Dan. Jangan kangen dulu.” Nara meledek Dania.
“Dih, apaan. Lo kata gue Milea.” Balas Dania dengan wajah dibuat agak sinis kepada Nara.
“Hahaha… kangen beneran juga gak papa kali.” Nara malah tertawa melihat respon Dania yang seperti itu.
.
“Daniaa, pinjem catatan biologi, dong.” Rafi- teman sekelas sekaligus orang yang duduk di barisan belakang Dania memanggil gadis di depannya untuk meminjam catatan materi.
“Ogah. Lo ngeselin!” Dania menolak mentah-mentah permintaan Rafi.
“Ooh gituu. Oke. Gue kasih tau aja kali ya rahasia lo sama temen-temen kelas.” Balas Rafi mengancam Dania dengan senyum smirk nya..
“Dih, kayak lo tau aja rahasia gue.” Jawab Dania jutek.
“Eh eh, jangan salah. Mau gue kasih tau nih rahasia lo apaan?”
“Apa?!”
“Lo… nembak Dhuha di parkiran.” Jawab Rafi dengan memasang senyum yang menurut Dania sangat menyebalkan. Ingin rasanya Dania mengacak-acak wajah teman lakn*t nya itu.
“HEH!! TAU DARI MANA LO??!! Jangan sembarangan yaa kalo ngomong!”
Dania terkejut mendengar apa yang dikatakan Rafi. Bagaimana laki-laki itu bisa tau tentang peristiwa yang terjadi beberapa minggu yang lalu itu? Apa jangan-jangan ia mendengar ketika Nara berteriak tempo hari?
“Gue gak budek Dania. Makanya kalo cerita tuh gak usah gede-gede banget suara lo pada. Bukan salah gue kalo gue jadi denger apa yang kalian ceritain.” Lagi-lagi Rafi menjawab dengan ekpresi yang membuat Dania sangat kesal.
Benar, kan dugaan Dania.
“Rafiii!! Lo nguping!! Gak sopan tau! Lagian gue gak nembak. Cuma confess doang! Lo gak usah fitnah ya bilang gue nembak-nembak begitu. Bisa bedain gak sih nembak sama confess?!”
Dania sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya. Ia memarahi Rafi karena merasa bahwa teman sekelasnya itu sudah menguping pembicaraannya bersama Nara dan Aisha.
“Mau confess kek, mau nembak kek, terserah lo. Gue mau pinjem catatan biologi nih, buruan. Udah ditagih sama guru. Atau mau gue bilangin beneran sama temen-temen.” Balas Rafi masih dengan ancamannya kepada Dania.
“IIISSHH, Ngeselin banget sih! Ya udah nih! Awas ya kalo ada orang lain lagi yang tau. Lihat aja lo nanti.”
Masih Dengan wajah kesalnya, Dania menyodorkan buku catatannya kepada Rafi dengan perasaan setengah tidak ikhlas.
“Oke, amaan. Pinjem dulu yaa, Dania cantik.”
Sementara itu dengan santainya Rafi berjalan keluar kelas dengan wajah puas setelah berhasil membujuk Dania meminjamkan catatan dengan ancamannya.
.
“Aishaaa..”
“Apaan?”
Aisha yang sedang sibuk mencatat, mengangkat kepala saat suara Dania memanggil namanya.
“Si Rafi tau soal confess gue ke Dhuhaa.” Dania memberitahukan Aisha tentang hal yang membuatnya sangat kesal hari ini.
“Hah? Kok bisa??” mendengar apa yang dikatakan Dania, Aisha jadi ikut kaget.
“Dia denger pas waktu itu kita cerita sama Nara. Aaaa.. gimana dong.” Ujar Dania frustasi.
“Yaa, gimana dong. Gue juga bingung. Nih pasti gara-gara si Nara teriak-teriak kan?”
“Gak tau deh gue.” Kali ini Dania menjawab dengan wajah memelas pasrahnya.
.
“Nih, Dan catatan lo. Makasih yak.”
Rafi mengembalikan catatan Dania karena dia sudah selesai menyalin materi yang ada di buku Dania.
“Y.”
Dania yang masih kesal dengan Rafi menjawab dengan sangat singkat.
“Ya elah, jutek amat, sih. Jangan marah-marah mulu mbak, bulan puasa nih. Ntar batal lho.” Ujar Rafi melihat raut wajah Dania yang sedang tidak bersahabat.
“Berisik lo! Gue emosi juga gara-gara lo dari tadi.” Balas Dania ketus.
“Eh, Dan. Si Dhuha belom punya pacar tau. Deketin, gih.” Rafi kembali membuka suara.
“Deketin pala lu! Gampang bener lo ngomong begitu.”
Emosi Dania akibat perbincangannya dengan Rafi sebelumnya yang mulai reda, kembali muncul akibat perkataan Rafi barusan.
“Ya gapapa kali, coba aja dulu. Gue punya nomor wa nya kalo lo mau.” Ujar Rafi yang malah menambah tingkat emosi Dania.
“Heh, Udin! Lo pikir semudah itu deketin anak famous kayak Dhuha!? Cowok kayak dia mana mau pacaran. Lagian gue juga gak mau pacaran. Terus tuh nomor wa kalo gue mau juga udah lama gue save, orang ada di grup padus.” Dania menjawab dengan sangat menahan emosinya.
“Iya juga sih. Tuh anak emang bagus sih akhlaknya. Waktu nginep di rumah gue aja abis shalat subuh dia ngaji. Terus sekarang kayaknya hafalan Qur’an nya udah mau 10 juz kalo gak salah.” Rafi memberi tahu Dania.
“Masya Allah.” Dania sedikit terkejut mendengar apa yang Rafi katakan.
“Ish, Rafii! Kenapa tambah lo kasih tau ke guee! Makin pusing dah ah.” Semakin frustasi Dania setelah mendapatkan informasi dari Rafi.
Yang sabar ya, Dania.
Komentar
Posting Komentar