Tsabira & Dhuha Nya
Chapter 4: Jatuh Suka
“Woi, cepetan dong larinya, lama banget lo. Udah ah gue potong ya, gue duluan, bye.” Dania mengomeli temannya yang berada di barisan depan karena berlari sangat lambat.
Saat ini Dania dan teman- temannya sedang berlari keliling lapangan, padahal tidak ada jam olahraga. Dan mereka saja mengenakan seragam putih abu-abu saat ini.
“Haduh, capek.” Dania menunduk sambil memegang lututnya dengan napas yang masih ngos-ngosan. Akhirnya Dania menyelesaikan tugasnya, berlari mengelilingi lapangan sekolah.
“Lah, kok cowok semua? Cewek nya mana? Masa belom pada nyampe?” Dania bingung saat tidak melihat seorang pun teman perempuan nya di dalam barisan. Ya sudah lah, mungkin mereka masih sisa beberapa putaran lagi.
Karena sekarang hanya dia satu-satu nya siswa perempuan yang ada di barisan, Dania memutuskan untuk mengambil barisan paling belakang, di depan tangga. Dania melihat di depannya para siswa laki-laki tengah asik mengobrol dengan suara yang tidak bersahabat di telinganya. Alias berisik. Dan salah satu siswa laki-laki itu adalah seseorang yang Dania sangat kenali wajah dan suaranya. Ya, siapa lagi kalau bukan Dhuha. Laki-laki itu berdiri tepat di depan Dania. Awalnya Dania membiarkan saja, tetapi lama-lama Dania mulai risih dengan percakapan yang sebenarnya bisa diucapkan dengan intonasi yang santai.
“Ish, diam woii! Berisik banget sih!” Dania menegur laki-laki yang berdiri tepat di depannya itu dengan sedikit kesal. Dan Dania dibuat lebih kesal lagi karena Dhuha malah meledek nya dengan menjulurkan lidahnya dan ekspresi wajah yang sangat mengesalkan.
Daripada amarahnya semakin bertambah, Dania akhirnya memilih untuk duduk di tangga yang ada di belakangnya. Tidak lama Dania melihat laki-laki yang membuatnya kesal itu berjalan ke arahnya dan ikut duduk bersamanya di tangga tersebut. Dania sedikit memalingkan wajahnya karena ia masih merasa kesal pada Dhuha.
Tidak ada percakapan di antara keduanya, hingga akhirnya Dania membuka suara.
“Itu di atas ruang apa sih, Dhuha?” Dania bertanya pada Dhuha sambil menunjuk sebuah ruangan yang berada di lantai dua.
“Rental PS.” Dania memutar matanya malas mendengar jawaban Dhuha. Dengan wajah tanpa ekspresinya, laki-laki itu menjawab pertanyaan Dania dengan jawaban yang menurutnya sangat tidak nyambung dan cringe.
“Daniaaa!!! Banguun, shalat subuh, Dania Tsabira!” suara seorang wanita paruh baya yang cukup menggelegar membuat Dania yang tadinya berbaring dengan memejamkan matanya langsung terduduk kaget. Jika kamu menebak itu adalah suara ibu nya Dania, tebakanmu sangat tepat.
“Astagfirullahaladzim”, Dania beristigfar. Beberapa saat Dania terdiam. Hingga akhirnya ia menyadari apa yang dialaminya bersama Dhuha tadi adalah sebuah mimpi. Dania mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa sedikit kecewa karena itu hanyalah mimpi. Padahal peristiwa seperti itu adalah sesuatu yang sangat Dania harapkan bisa terjadi di dunia nyata.
Sudah, dari pada berlarut-larut memikirkan mimpi mu yang memiliki sedikit kemungkinan untuk terjadi secara nyata itu, lebih baik kamu bangkit dari kasur, mengambil wudhu, lalu shalat subuh, Dania. Sebelum suara lantang ibu mu kembali mengusik telinga.
.
Karena ini adalah hari Minggu, Dania hanya menghabiskan waktu di kamar bersama ponsel dan laptopnya. Ya, karena gadis itu adalah anak rumahan sekali. Bahkan terkadang teman-temannya sering mengocehinya karena Dania selalu membuat berbagai alasan saat diajak keluar.
Sudah lebih dari dua jam Dania berada di depan layar berbentuk persegi panjang itu. Tidak ada yang menarik sebenarnya. Dia hanya menonton film yang dipilihnya asal dan tidak menyelesaikan film itu. Lalu beralih ke youtube dan masih tidak ada tontonan yang menarik.
Saat ini Dania masih memikirkan tentang mimpinya pagi tadi. Menonton film dan youtube hanyalah pengalihan agar dia tidak terus memikirkan mimpinya dan seseorang yang ada dalam mimpi itu juga tentunya. Tapi ternyata itu semua tidak berhasil.
Dania beralih pada ponselnya, membuka instagram. Saat layar memperlihatkan beranda instagramnya, nama akun seseorang yang sedari tadi sedang mendiami pikirannya berada pada posisi paling awal di bagian instastory. Dania menekan nama itu dan melihat bahwa dia me-repost instastory orang lain dan terdapat kalimat “happy birthday @dhuha.mdv” beserta fotonya. Ternyata hari ini adalah hari kelahiran Dhuha yang ke 17.
Dania terus menslide instastory Dhuha hingga terlihat repost ucapan dari seorang gadis yang waktu itu Dania lihat saat ia sedang bersama Tasya dan Fahira. Dania hanya tersenyum kecut melihat itu.
.
“Sha, apa gue confess aja ya?”, Dania yang berjalan menuju parkiran sekolah bersama Aisha membuka pembicaraan di antara keduanya.
“Hah?” Aisha membulatkan matanya setelah mendengar pernyataan Dania.
“Yaaa, terserah lo, sih. Tapi emangnya lo se gak tahan itu ya pengen ngomong ke dia?”
“Duuh, gimana ya? gue gak tenang aja kalo belom kasih tau orangnya langsung. Dia kan gak kenal gue. Tapi senggaknya kalo gue kasih tau dia, dia jadi tau kalo gue ada dan gue suka sama dia.” Dania memberikan penjelasan kepada Aisha.
“Hmm, yaudah. Kalo lo berani dan itu bikin lo lega, silahkan. Itu hak lo juga”, Aisha memberikan pendapatnya yang ditanggapi dengan anggukan oleh Dania.
Di tengah perjalanan mereka yang hampir memasuki area parkiran sekolah, Aisha melihat laki-laki yang menjadi topik pembicaraan mereka tadi sedang duduk di atas motornya dan berbincang dengan temannya pada jarak yang tidak terlalu jauh dari kedua gadis itu.
“Eh Dan, tuh orangnya. Baru aja diomongin”, Aisha memberi tau Dania tentang objek yang dilihatnya.
Dania menoleh ke arah Aisha,
“Sekarang aja kali ya, ngomongnya?”
“Lah? Serius lo? Jangan, Dan. Nanti aja.”
“Ya mumpung ada orangnya.”
“Ya gak setelah lo kasih tau gue mau confess, lo langsung ngomong sama dia.”
“Mumpung ada kesempatan, Sha.”
“Hufft, ya udah terserah lo aja, deh.” Aisha akhirnya pasrah dengan keinginan temannya yang keras kepala itu.
“Bentar, tunggu temennya pergi.”
Setelah beberapa menit menunggu, Dania dan Aisha melihat teman dari laki-laki itu pergi dan hanya tersisa laki-laki itu saja di sana.
“Tuh, udah cabut temennya.” Aisha memberi tau Dania yang juga melihat hal itu.
“Huh, Bismillah! Doain gue ya.” Dania menghembuskan napasnya sebelum menghampiri laki-laki itu untuk mengungkapkan perasaannya.
“Ya. Gue tunggu sini ya.”
Dania mulai berjalan ke arah laki-laki itu. Dan saat ini, ia berdiri tepat di belakang laki-laki itu yang masih belum mengetahui keberadaan Dania di belakangnya.
“Dhuha!” Dania memanggil laki-laki itu dengan namanya.
Dhuha menoleh ke belakang dan melihat gadis yang memanggilnya barusan.
“Ya?”
“Eeee, sebelumnya sorry kalo ganggu waktu lo. Gue boleh ngomong sesuatu?” Dania berbicara dengan suara yang sebenarnya gemetar tapi sangat ia tahan.
“Iya gapapa. Mau ngomong apa?” tanya Dhuha pada Dania.
“Guee, mau minta maaf.”
“Hah? Minta maaf… kenapa?”
“Eee, duh gimana, ya? gue bingung ngomongnya gimana.” Dania mulai nervous. Ia mengepalkan tangannya dengan cukup kuat.
“Gapapa, ngomong aja.”
“Bentar.”
Dania mengeluarkan earphone dari ranselnya dan menyodorkannya pada Dhuha.
Dhuha tidak langsung menerima earphone itu. Laki-laki itu malah mengerutkan dahinya tanda bahwa ia bingung dan tidak mengerti maksud Dania.
“Pakai dulu.” Dania meminta Dhuha memakai earphone itu.
Setelah earphone terpasang di telinga Dhuha, Dania membuka spotify dan memutarkan lagu “Jatuh Suka-Tulus”.
Dhuha menatap Dania sekilas dan fokus mendengarkan lagu sampai Dania menghentikannya di reff pertama.
“Udah denger, kan? Itu alasan gue minta maaf.”
“Gue gak ngerti. Maksudnya?” Dhuha mengangkat alisnya dan menanyakan hal itu pada Dania.
“Duh, masa sih lo gak ngerti? Gue malu kalo harus diperjelas lagi.” Dania bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Dhuha bahwa dia menyukai laki-laki itu.
“Lahh?”
“Huufft, oke gini deh. Sebelumnya gue minta maaf banget sama lo. Tapi gue udah bilang ke diri gue sendiri kalo gue harus kasih tau lo. Jadiii, gini. Gueee… sebenernyaa lagi ngerasain hal yang sama kayak lagu yang barusan lo dengar ke… orang yang ada di depan gue sekarang.” Dania memejamkan mata setelah berhasil mengatakan hal yang seharusnya bisa dipahami oleh Dhuha.
“Mungkin udah banyak juga yang nyampein hal kayak gini ke lo. Tapi emang gue pengen ngomong aja, gak mengharapkan apa-apa. Gitu aja sih. Maaf ya, Dhuha.” Lanjut Dania.
“Oalahh, gituu. Makasih ya sebelumnya udah suka gue. Gapapa gak usah minta maaf.” Dhuha menjawab pernyataan Dania dengan santai.
“Iyaa, makasih juga atas respon baiknya. Sekali lagi maaf ya, Dhuha”. Entah sudah berapa kali Dania meminta maaf pada Dhuha. Tapi yang jelas Dania akhirnya bisa tersenyum lega setelah mendengar pernyataan Dhuha.
“Santai aja gapapa, gak usah minta maaf terus. Gue juga gak jahat kok.”
“Hehe. Emm, Dhuha jangan bilang siapa-siapa yaa, apalagi temen-temen lo. Gue malu.”
“Iyaa, aman. Masih ada yang mau disampein?” tanya Dhuha.
“Gak kok. Gak ada, silahkan kalo lo mau pulang.”
“Eh btw, happy birthday ya, Dhuha.” Dania ingat bahwa kemarin adalah hari ulang tahun Dhuha.
“Makasih.” balas Dhuha diiringi senyuman tipis.
“Iya, makasih juga ya. Hati-hati.” Dhuha mengangguk memberikan tanggapan.
Laki-laki itu mulai menyalakan mesin motornya.
“Duluan, ya.” Ujar Dhuha pada Dania yang juga dibalas anggukan oleh gadis itu.
Lalu motornya mulai keluar dari area sekolah mereka.
.
Sementara Aisha yang sedari tadi memperhatikan keduanya dari jauh hanya tercengang melihat apa yang dilakukan Dania.
“Beneran nekat tuh cewek.”
Continued...
Komentar
Posting Komentar