Tsabira & Dhuha Nya
Chapter 3: Little Happiness
Hari ini Madeena Islamic School tengah disibukkan dengan persiapan acara pensi yang rutin diadakan setiap akhir bulan.
Dania yang sedang berjalan bersama kedua sahabatnya menuju kelas setelah membeli siomay di kantin melihat seseorang yang sudah menjadi moodbooster nya sejak sebulan yang lalu tengah duduk di kursi taman sekolah. Dania membentuk bibirnya menjadi sebuah lengkungan kecil.
“Halo, Dhuha!” dua gadis yang berjalan di depan Dania menyapa Dhuha dengan senyum merekah dan melambaikan tangannya. Mungkin mereka adalah teman Dhuha. Karena Dania jarang melihat perempuan yang menyapa Dhuha seperti itu kecuali temannya.
Dania agak kesal melihat apa yang baru saja terjadi di depannya.
“Hai!” Dhuha membalas sapaan kedua gadis itu dengan melambaikan tangan dan memberikan senyuman yang menurut Dania sangat manis. Sebuah senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Dania yang tadinya kesal kini berubah menjadi salah tingkah tidak karuan. Ia berteriak kegirangan dan menampol Nara yang berada di samping kirinya hingga meringis kesakitan.
“Woii! Sakit beg*!! Udah gila lo, ya?!”, Nara mengomeli Dania sambil mengusap bahunya yang tadi ditampol Dania.
“Tau lu. Kenapa, sih? Heboh banget.” Aisha ikut menambahi.
“Senyumnya manis bangeett!!”, Dania menjawab masih dengan ekspresi girangnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Hmmm, mulai nih, Nar. Kalo udah naksir cowok begini nih dia. Istigfar, Dania istigfar. Astagfirullahaladzim.”
Aisha yang melihat Dania dengan tingkahnya yang mulai tidak beres, langsung memberikan peringatan untuk temannya yang sedang kasmaran itu.
Mendengar itu Dania hanya menyengir lebar sedangkan Nara masih dengan raut kesalnya dan kembali mengomeli Dania karena bahunya yang masih sakit akibat tampolan gadis itu.
.
Dania tengah duduk di tangga yang menghadap ke arah lapangan bersama dengan Tasya dan Fahira, teman sekelasnya saat kelas sebelas. Mereka berbincang sambil melihat situasi lapangan yang cukup ramai dengan anggota OSIS yang sibuk menyiapkan acara pensi. Hingga mata Dania tidak sengaja menangkap seseorang yang memakai almamater berwarna abu tua tengah merapihkan kabel-kabel yang tersambung dengan microfon.
Sepertinya sudah bisa ditebak siapa dia. Ya, itu adalah Dhuha.
Selain menjabat sebagi Ketua Rumah Tahfidz dan anggota paduan suara, Dhuha juga aktif dalam kegiatan OSIS. Sebenarnya itu hanya hal biasa. Tapi karena mengikuti satu kegiatan ekstra kulikuler saja Dania sudah kesulitan untuk membagi waktu, dia cukup takjub pada Dhuha yang bisa membagi waktu untuk itu semua. Ditambah karena Dhuha adalah seorang hafidz Qur’an, dia pasti juga harus mengatur jadwal untuk muroja’ah agar hafalannya tidak hilang.
Dania melihat seorang cewek menggunakan seragam organisasi Rumah Tahfidz berjalan mendekat ke arah Dhuha. Kemudian mereka terlihat membicarakan sesuatu yang sepertinya menarik, karena Dania melihat mereka tertawa saat berbincang. Dania tersenyum kecut melihat peristiwa itu. Kedua orang itu terlihat sangat akrab. Dania tau, gadis itu adalah teman sekelas Dhuha saat kelas sebelas dan dia juga bergabung dengan Rumah Tahfidz di sekolah mereka.
Beberapa saat kemudian gadis itu terlihat meninggalkan Dhuha sendiri. Lalu Dania melihat laki-laki itu berjalan ke arah dirinya, Tasya, dan Fahira duduk. Dania terdiam. Tapi, tidak. Dhuha bukan ingin mendatangi kamu, Dania. Dia hanya ingin membuang kertas di tempat sampah yang tidak jauh dari tangga, lalu kembali ke tempat awal dia berdiri tanpa melihat ke arah Dania sedikitpun. Memangnya kenapa dia harus melihat Dania?
.
Dania, Nara, dan Aisha berjalan keluar dari bagian dalam sekolah menuju ke parkiran, karena bel pulang sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu.
“Nar, jadi gak pulang bareng gue?” tanya Dania pada Nara.
“Iya, jadi.” balas Nara.
“Ya udah. Kalo gitu gue duluan, ya. Mau beli titipan nyokap. Dah!” Aisha berpamitan pada kedua temannya dan langsung melajukan sepeda motornya meninggalkan parkiran sekolah.
“Dah, hati-hati.”
Lagi-lagi, mata Dania tidak sengaja melihat ke arah seorang siswa laki-laki yang sedang menyalakan mesin motornya. Ya, itu adalah seseorang yang selalu ingin Dania lihat. Dhuha Madava. Setelah mesin motornya berhasil menyala, Dhuha langsung melaju meninggalkan parkiran. Dania terus mengamati hingga punggung laki-laki itu tidak terlihat lagi.
“Daniaa Dania, segitu suka nya lo sama si Dhuha? Sampe orangnya udah gak keliatan lagi aja mata lo masih gak pindah arah.” Ujar Nara yang memperhatian tatapan Dania sedari tadi.
“Apaan sih, Nar? Udah ah, balik. Gue tinggal tau rasa lo.” Balas Dania yang berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.
Continued...
Komentar
Posting Komentar