Tsabira & Dhuha Nya

Chapter 1: Where it All Started


Dania sedang mencatat materi matematika wajib yang diberikan oleh ketua kelas 12 IPA 4 karena guru yang bersangkutan berhalangan hadir.

“Dania, dicariin sama Hana.” Fany- sekretaris kelas memberitahu Dania.

Dania bangkit dari kursinya menuju ke depan pintu kelas, tempat Hana menunggu.

“Kenapa, Na?” tanya Dania pada Hana- ketua ekskul paduan suara di Madeena Islamic School.

“Nanti pas bel, lo jangan pulang dulu ya. Ada yang mau diomongin sama Pembina.”

“Oke.”

.

Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Tetapi sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Hana pagi tadi, Dania beserta beberapa anggota paduan suara lainnya belum beranjak pergi dari lingkungan sekolah untuk mendengar informasi yang akan disampaikan oleh Pembina.

Saat ini Dania bersama teman-temannya sedang berada di kantin untuk makan siang.

15 menit berlalu,

“Oke semuanya, jadi tujuan saya mengumpulkan sebagian dari kalian hari ini adalah untuk memberitahu bahwa besok sekolah kita akan kedatangan tamu dari pihak yayasan. Dan tim paduan suara kita ditugaskan untuk tampil pada pembukaan acara. Gimana? Bisa semua, gak? Kalo memang bisa kita akan latihan untuk acaranya hari ini.” Jelas Sir Dhanu- Pembina paduan suara MIS.

“Insya Allah bisa, Sir!”  jawab para anggota paduan suara.

“Maaf, Sir. lni ada beberapa nama yang udah saya tuliskan di sini. Mereka kayaknya gak bisa ikut tampil besok.”  Hana mengangkat tangannya yang tengah memegang secarik kertas berisikan nama-nama anggota yang berhalangan untuk ikut tampil.

“Memangnya siapa saja yang gak bisa?” Sir Dhanu meminta Hana menyebutkan nama-nama yang berhalangan.

“Meyra, Aldo, Amina, Naura, Dhuha, sama Lia, Sir”.

“Oh, ya udah. Untuk nama-nama itu coret saja. Karena saya lihat yang hadir sekarang juga udah cukup banyak.”

“Siap, Sir.”

Mendengar Sir Dhanu memerintahkan Hana untuk mencoret nama-nama tersebut, entah kenapa Dania merasa sedikit kecewa. Bukan karena semua nama. Tapi hanya karna satu nama.

“Oke, bisa kita mulai sekarang ya latihannya. Biar kalian pulangnya gak kesorean. Kita pemanasan dulu.” Sir Dhanu menginstruksi untuk memulai latihan.

.

“Assalamu’alaikum.” di tengah jalannya latihan, seseorang datang mengucapkan salam dengan mimik wajahnya yang bisa dikatakan flat.

“Wa’alaikumsalam.” semua orang yang berada di aula- tempat latihan paduan suara hari ini -menjawab salam dari seseorang tersebut.

Melihat siapa yang datang, Dania mengulas senyum yang sangat tipis yang tidak disadari oleh semua orang bahkan oleh dirinya sendiri.

“Lah? Kirain lo gak datang.” ujar Hana.

“Maaf, Sir. Saya tadi habis makan siang.” Seseorang itu memberi tahu Pembina tanpa menghiraukan perkataan Hana.

“Iya, gak papa. Ayo masuk. Kita sudah mulai latihan dari tadi.”

Selama latihan berlangsung, mata Dania beberapa kali melirik pada orang yang tadi datang terlambat untuk latihan. Dan saat ini Dania kembali melirik pada seseorang itu hingga tiba-tiba secara tidak sengaja mereka saling menatap untuk sekilas, karena Dania langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Latihan berjalan biasa saja- karena memang tidak ada yang istimewa -hingga dua jam berlalu. Dan sekarang waktu menunjukkan pukul 14:35.

“Oke, saya rasa sudah cukup latihan untuk hari ini. Saya harap besok kalian semua bisa datang lebih awal supaya persiapan kita bisa lebih matang,”

“Ya sudah, semuanya boleh pulang”.

.

Di tengah perjalanan pulang menuju rumah dengan mengendarai vespa ungu pastel-nya, Dania masih memikirkan tentang seseorang yang tidak sengaja eyecontact dengannya saat latihan paduan suara tadi. Dania bingung dengan perasaannya saat ini. Hal apa yang tengah ia rasakan saat ini?

Entahlah. Dania tidak ingin terlalu memikirkannya. Sekarang ia hanya berpikir untuk sampai ke rumah, membersihkan diri, menyantap masakan ibu-nya yang menurutnya tidak ada yang bisa menandingi. Dan yang paling penting adalah, kasur tidurnya yang empuk tiada tara untuk tempat terlelap yang paling nyaman.

.

Besoknya,

Dania sampai di sekolah pukul 06:30. Ia sengaja datang lebih awal untuk melaksanakan gladi bersih untuk pembukaan acara hari ini. Dania memarkirkan vespa ungu pastel-nya di parkiran sekolah yang masih sepi. Kemudian ia berjalan menuju aula, tempat di mana acara hari ini akan dilaksanakan.

Hari ini adalah hari Kamis. Tetapi untuk acara hari ini Dania mengenakan seragam almamater berwarna dark grey yang biasa dipakai pada hari Senin, dan dipadukan dengan hijab segi empat berwarna hitam sesuai dengan instruksi dari Hana.

Sampai di depan aula, Dania melihat Alya dan Fara yang tengah duduk di kursi panjang depan koridor.

“Baru berdua aja?” tanya Dania pada keduanya.

“Tadi ada Hana, tapi dia lagi dipanggil sama Sir Dhanu.”

“Ooh.” Dania membalas sambil menganggukan kepala.

.

Sekarang pukul 07:30. Sekolah sudah mulai ramai dan bel tanda mulai pelajaran sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu.

Anggota paduan suara sudah bersiap di belakang panggung aula. Hanya beberapa orang saja yang belum datang.

Sedari tadi Dania melamun dengan tatapan mengarah ke pintu aula. Seperti sedang menunggu seseorang yang sampai sekarang masih belum terlihat batang hidungnya.

“Guys, mohon perhatiannya sebentar,” suara Hana berhasil mengalihkan perhatian Dania dari pintu aula.

“Jadi sekarang kita bakal atur barisan dulu, baru nanti kita lanjut persiapan di panggung, ya!”

 Tak lama dari itu, Dania melihat dua orang yang sedang berjalan masuk menuju aula. Lagi- lagi, tanpa disadari Dania mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk senyuman yang sangat tipis.

“Assalamu’alaikum.”

Dua orang anggota lain yang baru datang mengucapkan salam.

“Wa’alaikum salam. Kalian lama banget, sih! Kemarin kan udah dibilangin buat datang agak cepat! Kita tuh mau persiapan dulu. Ini aja udah mau atur barisan. Untung kalian udah datang. Kalo gak bakal ribet nih pasti.” Hana mengomeli keduanya.

“Ya maaf deh, Bu Ketua.”

“Baru mau mulai juga kan.”

“Ish. Ya udah, ayo buruan baris semuanya. Coba buat cewek lima yang alto di depan. Terus yang cewek sopran di belakang. Sisanya yang cowok, dua di samping kanan, dua lagi samping kiri. Isi depan belakang, ya.” Jelas Hana pada anggotanya.

Dania mengambil posisi di baris kedua paling kiri untuk cewek. Merasa sudah aman dengan posisinya, Dania hanya berdiri menunggu instruksi selanjutnya dari Hana sampai-sampai ia tidak menyadari di samping kirinya sudah berdiri seseorang yang wajahnya hanya datar tanpa ekspresi apapun.

Merasa barisan di samping kirinya sudah ditempati seseorang, Dania akhirnya menoleh ke arah orang tersebut. Saat matanya sudah sampai pada wajah seseorang di sampingnya itu, Dania sedikit kaget melihat siapa seseorang itu. Bagaimana tidak? Orang itu adalah orang yang sempat beradu tatap dengannya selama beberapa detik kemarin. Orang itu adalah orang yang menjadi alasan Dania melamun dan selalu melihat ke arah pintu aula sedari tadi.

Dania mencoba menyadarkan dirinya kembali dan berhenti menatap orang tersebut bertepatan dengan suara Hana yang terdengar di telinganya.

“Oke, udah pas nih ya barisannya.”

Hana memastikan agar barisan terlihat rapih dari depan.

“Iya. Udah nih kayaknya. Ingatin barisan masing-masing, ya.” sambung Fara.

“Gimana, Na?  Barisannya udah pas ini?”, tanya Sir Dhanu yang baru saja masuk ke aula.

“Aman, Sir. Masalah barisan udah selesai. So, sekarang kita bisa langsung lanjut latihan buat lagu-nya.” Jawab Hana.

“Oke sip.”

Dania kembali melihat ke samping kirinya. Terlihat seseorang yang masih bertahan dengan ekspresi datarnya tengah memainkan ponsel miliknya. Dania sedikit risih melihat seorang itu berdiri terlalu mundur, tidak sejajar dengan barisan yang lain. Dania ingin menegurnya, untuk menyejajarkan barisan mereka. Tapi Dania masih ragu untuk melakukan itu. Karena, tidak sengaja bertatapan saja dia sudah hampir salah tingkah walaupun hanya beberapa detik, apalagi disuruh menegur. Tapi, sebagai seseorang yang lumayan rapih, Dania risih melihat barisan yang tidak sejajar apalagi hanya karena satu orang.

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang hal yang seharusnya ia lakukan, Dania memutuskan untuk menegur seseorang itu. Lagipula hanya untuk memintanya maju menyejajarkan barisan. Sebelum melakukannya, Dania menarik napas terlebih dulu.

Dan akhirnya…

“Dhuha. Maju sedikit.”

Hanya itu yang bisa Dania katakan. Tiga kata yang membuatnya tiba-tiba merasa dingin di sekujur tubuhnya. Dan ini adalah pertama kalinya Dania menyebutkan nama seseorang itu. Dhuha. Lebih tepatnya Dhuha Madava.

Mendengar suara Dania yang menyuruhnya untuk maju, Dhuha hanya merespon dengan tatapan yang menurut Dania adalah tatapan yang mengintimidasi. Dan yang pasti, masih dengan wajah datarnya. Lalu ia maju selangkah. Tidak. Hanya setengah langkah. Karena menurut Dania laki-laki itu seperti tidak berpindah posisi.

.

Acara berjalan dengan lancar sampai selesai. Saat ini para anggota paduan suara yang bertugas tengah berkumpul di luar aula.

“Terima kasih untuk semua yang sudah memberikan penampilan yang cukup  baik hari ini. Karena kalian sudah dapat izin dispensasi, jadi kalian boleh pulang sekarang.” Ujar Sir Dhanu.

“Gue mau ke perpus dulu. Ada tugas fisika. Lo duluan aja kalo mau balik.”

“Oke. Gue duluan ya.”

Dania mendengar percakapan antara Dhuha dan temannya yang juga anggota padus.

“Dan, mau balik kan? Bareng yuk ke parkiran.” Suara Fara mengalihkan fokus Dania dari percakapan dua laki-laki itu.

“Eh, iya. Yuk.” Dania menjawab.

Di perjalanan dari aula hingga parkiran, Dania masih memikirkan tentang interaksi singkatnya dengan seorang laki- laki dingin bernama Dhuha itu. Dania tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa dia harus memikirkan hal kecil itu. Itu hal yang biasa, kan? Seseorang menegur temannya sendiri. Tapi apakah mereka teman? Teman tidak akan ragu untuk menegur dan menyapa temannya yang lain. Tapi Dania, kenapa dia merasa beku ketika nama seorang Dhuha keluar dari mulutnya. Ah, sudahlah. Waktu terlalu berharga jika hanya digunakan untuk memikirkan tentang hal membingungkan seperti ini.


Continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi Berlian

Tsabira & Dhuha Nya

Bumi Berlian